Home Insani Tentang Rezeki, Hutang, dan Mati

Tentang Rezeki, Hutang, dan Mati

93
0
SHARE

Tulisan ini masih kelanjutan dari hasil obrolan sepanjang perjalanan dari Dago ke Riung Bandung. Obrolan dengan bapak sopir angkot yang luar biasa. Ada beberapa fragmen obrolan yang belum terkisahkan dan sayang jika sampai terlupakan…

Di tengah jalan Cicadas, saat itu kondisi macet cukup parah, beliau memulai kembali obrolan dengan saya.

“Coba bayangkan jalur Kiara condong. Ada berapa banyak angkot yang lewat di sana? Ada Riung, Cibiru, Margahayu, Kalapa, Elang, Cibaduyut sama Ciwastra. Kalau masing-masing ada dua ratus unit saja, berarti ada 1400 angkot yang berseliweran di jalan itu. Tapi Allah telah membagi sedemikian rupa sehingga semuanya dapat rejeki. Pun hal sama terjadi di pasar Kiaracondong. Banyak pedagang yang menjual barang yang sama tapi ada saja yang belinya. Bahkan hewan pun telah Allah jamin rejekinya, lalu kenapa kita harus takut tidak dapat rejeki?”

“Rejeki berupa harta itu sedikitnya atau banyaknya adalah ujian bagi kita. Saat banyak bisa jadi kita tergelincir jadi sombong, saat sedikit bisa jadi kita tergelincir menjadi putus asa. Kesengsaraan di dunia ini hanya sementara. Haus, lapar, miskin di sini akan selesai saat kita mati. Tapi bayangkan jika kita gagal menyikapi ujian itu dengan baik, kesengsaraannya akan berlanjut di alam kubur dan nanti di alam keabadian akhirat. Na’udzubillah.”

Sesampainya kami di simpang rel Kiara condong, selepas shalat Maghrib, beliau mengobrol dengan penjual rokok di situ sambil menawarkan segelas kopi hangat.

“Mas, beli garpit sama kopi nya. Sekalian nitip uang ya sama Mang Ade, tadi saya bayar kopinya kurang.”. “Besok aja atuh, kalau ketemu sama Mang Ade…”jawab bapak penjual rokok.

“Jangan atuh mas, saya mah takut kalau punya hutang. Walaupun kecil. Umur mah siapa yang tahu. Gimana kalau kita mati masih membawa hutang? Nitip aja lah ya…”

“Di kehidupan kita mah yang paling dekat apa coba? Kematian. Yang paling jauh itu masa lalu. Yang paling besar itu hawa nafsu. Yang paling ringan adalah meninggalkan shalat dan yang paling berat itu amanat. Hal-hal yang saya sampaikan ini adalah amanat dari orang tua saya yang disampaikan ke saya. Dan saya insyaallah akan menyampaikan ini juga ke anak-anak saya… apalagi kalau kita berpikir bahwa kita sekarang sudah ada di akhir zaman. Boleh jadi kiamat itu terjadi sebentar lagi. Kita mah harus mempersiapkan bekal sebaik-baiknya.”

Bagi saya, bertemu orang seperti beliau membuat bisa melihat bahwa masih ada secercah harapan untuk bangsa ini. Bayangkan jika pengajaran kebaikan ini terus terjadi diantara ribuan ayah dan anak-anaknya secara turun temurun, insyaallah masih akan ada stok generasi yang baik untuk Bangsa Indonesia ini…

Ada hal yang menarik lagi. Setiap beliau berpapasan dengan angkot lain, selalu diusahakan untuk menyapa. Lalu hampir setiap angkotnya disusul, sopir yang lain mohon permisi. Padahal kan biasa kalau susul menyusul. Lalu berlanjut lagi obrolan kami…

“Saya mah Alhamdulillah sekarang gak punya musuh. Gak enak kalau punya musuh itu, gak tenang hati ini. Jangan sampai kita sampai menyakiti orang lain, sebagaimana kita tidak mau disakiti orang lain. Kalaupun kita disakiti orang lain, balaslah dengan cara yang baik. Pernah satu waktu motor saya diambil teman, lalu digadaikan. Alhamdulillah orangnya ketemu dan motornya pun ketemu. Teman-teman sudah ada yang emosi saat itu, hanya saya cegah jangan sampai dia dipukuli. Kalau kita membalas dengan cara yang buruk, ya sama saja kita dengan mereka.”

“Saya mah di mobil punya kencleng mas… nih di belakang jok. Saya isi receh 500 atau 1000. Uang ini bisa dipakai kalau tiba-tiba ada teman atau sodara butuh bantuan, saya jadi gak perlu ngambil uang jatah buat istri. Jadi tidak memberatkan.”

Tidak sering saya bisa berkesempatan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Namun ilmu adalah harta kaum muslimin yang terserak, ambillah dimana pun kamu menemukannya.

Lucky Hilman -ditulis di angkot Riung Bandung menuju Dago-

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here