Home Sahabat Nabi Khabbab bin Al ‘Arat -Pandai Besi Berhati Baja-

Khabbab bin Al ‘Arat -Pandai Besi Berhati Baja-

109
0
SHARE
khabbab bin arats

Rasulullah pun bangkit dari posisinya dan wajahnya menegas. Beliau lalu bersabda, “Sungguh sebelum kalian ada seorang lelaki, digalikan lubang untuknya  dan ia diletakkan di dalamnya. Lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di kepalanya, lalu ia dibelah menjadi dua bagian. Namun itu tidak menghalanginya dari mempertahankan agamanya. Lalu ada yang disisir dengan sisir besi di kepalanya hingga terlepas daging dan tulangnya, namun itu pun tidak memalingkannya dari agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan agama ini hingga setiap orang yang bepergian dari Shan’a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak khawatir kambingnya akan dimakan oleh serigala. Hanya saja kalian tergesa-gesa.”

************

Ummu Anmar, seorang wanita dari Bani Khuza’ah, berkeliling di pasar budak di Mekkah. Dia mencari seorang budak yang bisa dia manfaatkan tenaga dan keterampilannya. Banyak budak belian yang ditawarkan, dari berbagai bangsa yang tertaklukkan. Namun matanya berhenti pada seorang anak yang tampak ada raut kepandaian di wajahnya. Dibelilah anak yang bahkan belum baligh saat itu.

“Siapa namamu, nak?” Tanya Ummu Anmar. “Khabbab.” Jawab anak itu. “Lalu ayah dan kabilahmu?” Kembali Ummu Anmar bertanya. “Ayahku al-‘Arat dari dari Bani Tamim di daerah Nejd.” Jawab Khabbab.

“Bagaimana kamu bisa berada di pasar budak seperti ini?” Tanya Ummu Anmar. “Dahulu kampungku diserang oleh sebuah kabilah Arab. Seluruh ternak dirampas. Kaum wanita dan anak-anak dibawa dan terjual di pasar budak. Termasuk diriku.” Jawab Khabbab.

Oleh Ummu Anmar kemudian Khabbab dikirim kepada seorang pandai besi untuk diajari keterampilan membuat senjata dan perkakas logam. Kepandaian Khabbab membuatnya cepat menguasai keterampilan itu, dan setelah cukup dewasa, Khabbab diberikan kesempatan untuk mengelola bengkel pandai besi milik Ummu Anmar.

Khabbab menjalankan tugasnya dengan amanah, itulah yang membuat dia menjadi pandai besi yang cukup terkenal di kota Mekkah. Menempa besi itu sebuah pekerjaan yang penuh dengan kontemplasi, penuh dengan perenungan. Dia menempa jiwa dan mematangkan pemikirannya, hingga terbentuk lebih indah juga tajam. Khabbab tumbuh menjadi seorang yang lebih bijak menilai dunia. Dia melihat bahwa dunia di sekitarnya banyak mengalami penyimpangan di berbagai aspek, baik dari sisi aqidah, ibadah ataupun akhlak. Dia merindukan cahaya kebenaran hadir di bumi. Allah telah menyiapkan sebuah ruang di hatinya untuk diisikan hidayah-Nya.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun masa penantian, cahaya kebenaran itu muncul di Mekkah. Seorang lelaki dari Bani Hasyim, Muhammad bin Abdullah, menyatakan diri sebagai nabi yang membawa risalah Allah, membawa cahaya kebenaran yang dinantikan oleh dirinya. Khabbab langsung mendatangi Rasulullah, mendengarkan ajarannya, membenarkannya lalu kemudian bersyahadat menyatakan keimanannya. Hari itu dia kembali ke rumahnya sebagai orang yang berbeda.

Mengikuti Rasulullah bukanlah pilihan yang mudah bagi Khabbab, dia adalah seorang budak belian yang kemerdekaannya tergadai. Berbagai ujian menanti di kehidupannya. Khabbab tidak menutupi keimanannya di depan siapapun. Inilah yang menjadi awalan bagi ujian keimanan dirinya. Rumor tentangnya sampai pula ke telinga majikannya. Ummu Anmar pun mengajak saudaranya Siba’ bin Abdul Uzza untuk mendatangi Khabbab di bengkel kerjanya.

“Kami mendengar berita tentang dirimu yang sulit kami percayai.” Tanya mereka. “Apa itu?” Timpal Khabbab. “Beredar informasi mengenai kafirnya dirimu dari agama nenek moyangmu dan mengikuti ajaran lelaki Bani Hasyim itu.” Jawab Siba’. “Tidak, aku tidaklah kafir. Aku beriman kepada Allah ta’ala semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku meninggalkan berhala-berhala kalian. Dan aku menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Kata Khabbab dengan tegas.

Bagaikan api tersiram minyak, ucapan Khabbab itu langsung memicu kemarahan majikannya. Siba’ dan kawan-kawannya lalu memukuli Khabbab dengan ganas hingga pingsan. Saat dia sadar, seluruh tubuhnya terasa remuk akibat menerima bertubi-tubi hantaman. Namun keberanian Khabbab di hari itu memicu kaum muslimin lainnya menjadi lebih berani untuk menampakkan keimanannya.

Hal itu pulalah yang membuat orang-orang Quraisy lebih bernafsu untuk memberantas semai-semai keimanan yang sedang bertumbuh. Para dedengkot kafir Quraisy bersepakat untuk memberi tekanan pada muslimin yang kedudukannya kuat di kalangan mereka dan siksaan pada orang-orang yang kedudukannya lemah diantara mereka. Keluarga Yasir, Bilal dan Khabbab termasuk diantara orang-orang yang lemah kedudukannya.

Siksaan demi siksaan ditimpakan kepada Khabbab. Diterlentangkan di atas pasir di hari yang panas atau dijemur dengan dipakaikan baju besi adalah siksaan yang biasa dihadapi Khabbab. Ummu Anmar, bahkan memberi siksaan yang lebih berat lagi, dia memanaskan besi hingga membara lalu diletakkan di kepala Khabbab hingga Khabbab pun pingsan akibat sakitnya.

Rasulullah sering mengunjungi kaum muslimin yang sedang mengalami siksaan. Beliau pun berusaha menguatkan hati para sahabatnya dan memohon pertolongan untuk mereka. Beliau berdo’a, “Ya Allah limpahkanlah pertolongan-Mu kepada Khabbab.”

Sampai suatu hari Ummu Anmar mengalami sakit kepala yang luar biasa, tak ada tabib maupun obat yang mampu mengobati sakitnya. Hingga akhirnya ada seseorang yang memberi saran agar kepala dia ditempeli besi panas untuk menghilangkan sakitnya. Orang yang begitu angkuhnya menyiksa Khabbab akhirnya harus mengiba meminta untuk ditimpakan siksaan yang serupa dengan yang dia lakukan untuk menghilangkan sakit dari dirinya.

Saking beratnya siksaan yang Khabbab terima, suatu hari di masa Umar, “Ya Khabbab, ceritakanlah mengenai ujian Allah untuk dirimu.” Tanya Umar. Khabbab pun menunjukkan punggungnya yang rusak akibat bekas luka siksaan dahulu. “Aku tak pernah melihat yang seperti ini.” Kata Umar.

“Ya Amirul Mukminin, pernah suatu hari mereka menyalakan bara kemudian menempelkan punggungku di sana, hingga bara api tersebut tidak mati kecuali dengan air dari punggungku.” Jawab Khabbab.

Namun sekuat-kuatnya hati Khabbab menerima ujian itu, ada kalanya tubuh dan jiwanya lelah menghadapi gelombang ujian itu. Suatu hari Khabbab pergi mendatangi Rasulullah yang sedang berada di sekitar Ka’bah. Lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mintakan pertolongan untuk kami?”

Rasulullah pun bangkit dari posisinya dan wajahnya menegas. Beliau lalu bersabda, “Sungguh sebelum kalian ada seorang lelaki, digalikan lubang untuknya  dan ia diletakkan di dalamnya. Lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di kepalanya, lalu ia dibelah menjadi dua bagian. Namun itu tidak menghalanginya dari mempertahankan agamanya. Lalu ada yang disisir dengan sisir besi di kepalanya hingga terlepas daging dan tulangnya, namun itu pun tidak memalingkannya dari agamanya. Sungguh, Allah akan menyempurnakan agama ini hingga setiap orang yang bepergian dari Shan’a ke Hadramaut tidak takut kecuali kepada Allah dan tidak khawatir kambingnya akan dimakan oleh serigala. Hanya saja kalian tergesa-gesa.”

Rasulullah mengatakan itu bukanlah karena ketidakpedulian pada kondisi sahabatnya yang tersiksa luar biasa. Namun mengajarkan bahwa pertolongan Allah itu akan datang, namun masih tergadai oleh waktu. Kesabaran dan pengorbanan Khabbab dan sahabat-sahabatnyalah yang akan menebusnya. Setelah itu kesabaranlah yang menjadi kawan setianya.

************

Khabbab, selain dari termasuk muslimin angkatan pertama sehingga mengetahui turunnya risalah dari awal, ia juga seseorang yang terdidik dan mampu mengajari muslimin lainnya. Abdullah bin Mas’ud pun yang diakui kepakarannya akan Al-Quran oleh Rasulullah pun mengakui bahwa Khabbab gurunya, tempat bertanya akan kebenaran hapalan dan pemahaman Al Qur’an.

Dia mengajari banyak orang, termasuk diantaranya keluarga Sa’id bin Zaid, suami dari Fathimah binti Khaththab. Di suatu hari saat Khabbab sedang mengajari mereka, Umar bin Khaththab dengan tergesa-gesa mendatangi rumah adiknya itu. Dia begitu marah saat mendengar dari orang-orang bahwa Fathimah dan Sa’id telah mengikuti ajaran Muhammad. Padahal dia sendiri termasuk yang paling keras melawannya.

Namun setelah dia dengan kasarnya memukul adiknya hingga terluka, sisi lembut dari dirinya muncul kembali, dia meminta agar Fathimah memperlihatkan apa yang sedang dipelajari oleh mereka lalu membaca beberapa ayat yang sedang diajarkan oleh Khabbab. Seketika roman muka Umar pun berubah, dia meminta untuk ditunjukkan posisi Rasulullah. Khabbab pun keluar dari persembunyiannya dan berkata, “Wahai Umar, aku berharap engkaulah yang dipilih oleh Allah sebagai pengabulan doa Rasulullah. Aku mendengar kemarin beliau berdo’a, ‘Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan satu dari dua orang yang engkau cintai: Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khaththab.'”

Umar pun berkata, “Dimana aku bisa menemuinya, Wahai Khabbab?” Lalu Khabbab menjawab, ” Engkau bisa menemuinya di bukit Shafa, di rumah Arqom.”

************

Khabbab mengalami masa dimana kekayaan mengalir deras kepada kaum muslimin. Apalagi ia, sebagai muslim generasi permulaan, mujahid yang berjuang di banyak peperangan bersama Rasulullah, muhajirin dan banyak keutamaan lainnya membuat dirinya menerima tunjangan yang besar dari Baitul mal.

Namun kesabaran di hatinya tidak hanya muncul di saat sulitnya tapi juga di masa senangnya. Tak pernah terbersit di hatinya untuk menguasai harta itu. Dunia tampak tak berharga di mata Khabbab. Seluruh hartanya berupa dinar dan dirham diletakkan di sebuah ruangan di rumahnya tanpa penutup. Siapapun boleh mengambilnya sesuai dengan kebutuhannya.

Di waktu dia sakit menjelang kematiannya, dia menjadi sering menangis. Saat kawannya bertanya mengapa dia menangis, dia menjawab, “Aku menangis karena mengingat sahabatku yang telah mendahuluiku. Mereka membawa serta seluruh pahala mereka. Mereka tidak mendapatkan balasan di dunia atas pahala mereka. Namun kita hidup lebih panjang dan mendapatkan harta dunia seperti ini. Aku khawatir harta ini adalah balasan dari perbuatanku.”

************

Ya itulah Khabbab bin Al’Arat. Seorang yang menjual jiwa dan hartanya untuk mencapai keridhaan Rab-nya. Setelah Khabbab meninggal, Ali bin Abi Thalib berkata di kuburannya, “Semoga Allah merahmati Khabbab. Dia masuk Islam dalam keadaan berharap, agar bisa berhijrah dalam ketaatan dan hidup sebagai mujahid.”

(LHI)

Referensi:
Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Shalabi, Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here