Home Sahabat Nabi Abdullah bin Mas’ud -Penjaga Al Qur’an-

Abdullah bin Mas’ud -Penjaga Al Qur’an-

146
0
SHARE
abdullah bin mas'ud

Para sahabat Rasulullah berkumpul di suatu sudut kota Mekkah, salah seorang diantara mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar bacaan Al-Quran ini dengan bacaan yang keras. Siapa yang mau memperdengarkan di hadapan mereka?”
Lalu Abdullah bin Mas’ud -seorang yang bertubuh kecil dan lemah kedudukannya- menjawab, “Saya!”

 

************

Abdullah bin Mas’ud adalah salah seorang sahabat yang paling awal menjadi pengikut Rasulullah. Saat itu bahkan muslim belum banyak, masih bisa dihitung dengan jari. Dia termasuk salah seorang sahabat yang yang sangat dekat hubungannya dengan Rasulullah. Keterikatannya dengan Rasulullah dimulai dengan sebuah mukjizat…

Abdullah bin Mas’ud, atau dikenal dengan sebutan Ibnu Ummi ‘Abd, adalah seorang remaja yang tinggal di pinggiran kota Mekkah. Dia bukan berasal dari sebuah kabilah kuat, hanya masyarakat kecil biasa saja. Keluarganya miskin. Dia biasanya bekerja sebagai penggembala kambing. Saat itu dia sedang menjadi penggembala kambing seorang pembesar Quraisy, Uqbah bin Abi Mu’ith.

 

Dia menggembalakan kambing di pinggiran kota Mekkah, jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan segala dinamikanya. Menggembala, pada dasarnya adalah suatu pekerjaan yang penuh ketenangan, perenungan. Namun juga penuh tantangan. Tidaklah dia menjadi tertarik akan kabar-kabar yang berseliweran dari kota. Dia dengan tekun dan penuh tanggung jawab menjalani perannya itu.

 

Suatu hari dari kejauhan datang dua sosok lelaki yang berjalan dari arah Mekkah mendekatinya dan kumpulan kambing gembalaannya. Kelelahan tampak jelas di wajah mereka.

 

Saat mereka sudah cukup dekat dengan Abdullah bin Mas’ud, mereka berkata, “Wahai anak muda, apakah kamu memiliki susu untuk kami minum?” Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Ya ada, tapi kambing-kambing ini adalah amanat yang harus kupelihara. Aku tak bisa memberi kalian minum.” Ternyata kedua orang itu adalah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar. Wajah mereka tidak menunjukkan kekecewaan namun hanya membenarkan jawaban Ibnu Mas’ud itu.

 

“Kalau begitu adakah seekor kambing betina yang belum pernah dikawini oleh pejantan?” Rasulullah bertanya. “Ada.” Jawab Ibnu Mas’ud sambil membawakan seekor kambing betina muda yang belum pernah dikawini. Dia berpikir jika kambing betina yang belum pernah dikawini pejantan pasti tidak akan menghasilkan susu, sehingga dia tidak melalaikan amanatnya.

 

Rasulullah lalu memegang puting susu kambing itu lalu berdo’a menyebut nama Allah. Tiba-tiba air susu memenuhi ambingnya dan memancar deras saat diperah. Rasulullah pun mengambil sebuah wadah dan memerah susu kambing itu. Beliau pun meminumnya lalu memberikan pada Abu Bakar, juga demikian Ibnu Mas’ud. Setelah itu Rasulullah berkata, “Mengempislah.” Susu kambing itu pun kembali mengempis seperti awalnya.

 

Ibnu Mas’ud takjub dengan kejadian itu lalu berkata, “Ajarkan aku ucapan tadi.” Rasulullah kemudian mengusap kepalanya dan berkata, “Semoga Allah merahmatimu, engkau adalah anak muda yang diajar.”

 

************

 

Para sahabat Rasulullah berkumpul di suatu sudut kota Mekkah, salah seorang diantara mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar bacaan Al-Quran ini dengan bacaan yang keras. Siapa yang mau memperdengarkan di hadapan mereka?”

 

Lalu Abdullah bin Mas’ud -seorang yang bertubuh kecil dan lemah kedudukannya- menjawab, “Saya!” Rekan-rekannya menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami harapkan seseorang yang memiliki keluar yang sanggup melindunginya dari tindakan orang-orang itu. Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Biarkan aku melakukannya. Allah yang akan melindungiku.”

 

Tak lama kemudian, Ibnu Mas’ud datang ke dekat Ka’bah di sekitar lokasi perkumpulan orang-orang Quraisy. Dia lalu dengan lantang membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Ayat demi ayat dilantunkan Ibnu Ummi ‘Abd dengan indahnya.

 

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

ٱلرَّحۡمَـٰنُ (١) عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ (٢) خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ (٣) عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ (٤) ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٍ۬ (٥) وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ (٦)

 

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” [Surat Ar-Rahman 1 – 6]

 

Sejenak, orang-orang Quraisy tertegun mendengar keindahan ucapan dan suaranya. Namun tak lama mereka mulai bertanya-tanya, “Apa yang diucapkan oleh Ibnu Ummi ‘Abd itu?” Dijawab oleh sebagian lainnya “Itu ucapan-ucapan yang diajarkan oleh Muhammad.”
Setelah itu bertubi-tubi pukulan menimpa dirinya. Namun dia tetap membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Bagi Ibnu Mas’ud saat itu, apa yang terjadi saat itu bukanlah perkara sepele. Ibnu Mas’ud menunjukkan keberanian dan pengorbanan untuk menyampaikan kebenaran pada musuh-musuh Allah. Sedangkan dia adalah orang yang lemah kedudukannya di hadapan mereka.
Ibnu Mas’ud kembali kepada rekan-rekannya dalam kondisi berdarah akibat pukulan yang dia terima. Rekan-rekannya berkata, “Inilah yang kami takutkan terjadi pada dirimu.” Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh demi Allah, sekarang musuh-musuh Allah itu mudah saja  bagiku. Kalau kalian mau, aku akan mengulanginya lagi esok hari.” Rekan-rekannya menjawab, “Cukup sudah, kamu telah memperdengarkan kepada mereka apa yang mereka benci.”

 

Kejadian itu mengabadikan Ibnu Mas’ud sebagai sahabat pertama yang membacakan Al Qur’an secara lantang di hadapan orang-orang Quraisy. Dan bagaikan suatu pertanda, setelah itu hidup Ibnu Mas’ud dipenuhi berbagai hal yang berkaitan dengan Al Qur’an.

 

************

 

Tak seberapa lama setelah pertemuan pertama Ibnu Mas’ud dengan Rasulullah saat itu, dia menyatakan keislamannya. Setelah itu dia memilih berkhidmat untuk melayani Rasulullah. Ibnu Mas’ud bagaikan bayangan bagi Rasulullah, kemanapun beliau pergi disanalah Ibnu Mas’ud berada. Dia menyiapkan sandal Rasulullah saat beliau akan keluar rumah, membangunkan Rasulullah jika beliau tertidur, menutupi dengan hijab jika beliau sedang ada hajat. Ibnu Mas’ud bahkan diberi izin untuk masuk ke rumah Rasulullah saat sahabat yang lain tidak diberi izin. Dia selalu menyertai Rasulullah di kala kondisi sulit atau senang, perang ataupun tenang.

 

Kedekatan ini membuat Ibnu Mas’ud belajar jauh lebih banyak dibandingkan dengan rekan-rekannya. Terutama pada masa kehidupan muslimin bersama Rasulullah di Madinah. Dia termasuk ahlus shuffah, orang-orang yang tinggal di pelataran masjid Nabawi, yang terus menerus belajar pada Rasulullah. Di kalangan sahabat, Ibnu Mas’ud dikenal sebagai orang yang akhlaknya paling mirip dengan Rasulullah.

 

Kedekatan itu pula lah, yang telah terjalin sejak awal agama Islam diturunkan, membuat Ibnu Mas’ud mengikuti dengan sangat lekat proses turunnya ayat-ayat Al Qur’an. Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Aku menghapalkan 70 surat dalam Al Qur’an langsung dari Rasulullah. Sungguh, aku mengetahui setiap ayat yang turun itu dalam kondisi apa. Jika ada orang lain yang lebih mengetahui isi Al Qur’an dibandingkan diriku, sedangkan orang itu masih dalam jangkauan yang bisa ditempuh oleh untaku, sungguh aku akan mendatangi dirinya untuk mempelajari yang belum kupahami.”

 

Rasulullah bersama beberapa sahabat pernah mendengar Ibnu Mas’ud sedang membaca Al Qur’an dengan bacaan yang indah, Rasulullah pun bersabda, “Jika kalian ingin mendengar Al Qur’an sebagaimana ia diturunkan, dengarkanlah bacaan Ibnu Ummi ‘Abd.”

 

Di masa Umar, Ibnu Mas’ud ditugaskan bersama Ammar bin Yasir untuk memimpin Kufah. Di sana, di kota yang masyarakatnya sulit untuk menerima kepemimpinan siapapun, Ibnu Mas’ud diterima dengan sangat baik hingga saat dia ditarik dari posisinya, masyarakat Kufah berusaha untuk mempertahankan dirinya.

 

Suatu hari ada seorang penduduk Kufah yang bercerita pada Umar bahwa ada seorang alim yang mendiktekan al Qur’an dari hapalannya untuk dituliskan oleh muridnya. Umar menunjukkan kemarahan saat mendengar berita itu, dan bertanya siapa yang melakukannya. “Dia adalah Abdullah bin Mas’ud.” Kata orang itu. Umar pun menjawab, “Celaka kamu, aku tidak mengetahui ada di dunia ini yang lebih berhak untuk melakukan itu dibandingkan dengan Ibnu Mas’ud.”

 

Di saat Utsman melakukan penghimpunan Al Qur’an secara resmi, beberapa orang ditunjuk oleh Khalifah untuk menghancurkan semua catatan Al Qur’an yang tersebar di masyarakat, untuk digantikan dengan mushaf standar yang disebar ke seluruh wilayah Islam. Termasuk di Kufah, tempat dimana Ibnu Mas’ud berada. Ketidakterimaan ditunjukkan oleh Ibnu Mas’ud, namun akhirnya setelah menerima penjelasan dari Khalifah bahwa tindakan ini untuk mencegah ketidakseragaman bacaan Al-Quran, dan juga isi dari Al Qur’an yang telah dihimpun tidak menyalahi Al Qur’an sebagaimana yang diturunkan, Ibnu Mas’ud pun akhirnya bersepakat untuk itu.

 

************

 

Itulah Abdullah bin Mas’ud, seorang penggembala kambing miskin yang lemah kedudukannya di mata kaumnya, kemudian ditinggikan oleh ajaran Islam, dengan keteguhannya memegang amanat untuk menjaga Al Qur’an.

Itulah Abdullah bin Mas’ud yang dengan kekuatan imannya, dengan segala ibadahnya, dengan keluhuran akhlaknya, dengan pengorbanan dirinya, telah dijamin surga untuk dirinya bahkan saat dia masih berjalan di atas dunia.

Bukankah itu juga yang kita harapkan?

 

(LHI)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Shalabi, Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here