Home Sahabat Nabi Shuhaib bin Sinan -Saudagar yang beruntung-

Shuhaib bin Sinan -Saudagar yang beruntung-

55
0
SHARE

Shuhaib akhirnya sampai di Quba setelah berupaya keras menyusul hijrahnya Rasulullah beberapa hari sebelumnya. Saat Shuhaib sudah berada dekat dengan Rasulullah, beliaupun bersabda, “Perniagaan yang menguntungkan wahai Abu Yahya”. Rasulullah mengulang perkataannya sebanyak tiga kali.

 

************

 

Shuhaib bin Sinan, dikenal juga sebagai Shuhaib Ar Rumi karena dinisbatkan pada daerah asalnya Romawi. Namun sebenarnya Shuhaib adalah seorang lelaki keturunan Arab, ada kisah yang menarik yang membuat dia bisa dianggap sebagai orang Romawi pertama yang masuk Islam…

 

Saat itu, ada dua kekuatan besar yang berada di wilayah timur tengah, Romawi dengan pusat kekuasaan di Byzantium dan Persia dengan pusat kekuasaan di Mada’in. Kedua kekuatan ini saling berebut dominasi atas kekuasaan di wilayah itu. Pertempuran kecil, hingga peperangan besar kerap terjadi diantara keduanya.

 

Leluhur Shuhaib berasal dari sebuah kabilah Arab bernama Bani an-Namiri. Kabilah ini telah berpindah dari jazirah ke wilayah Irak. Setelah beberapa generasi, kabilah itu cukup kuat sehingga memegang peranan penting di wilayah tersebut. Ayahnya, Sinan bin Malik, adalah seorang pemimpin daerah di wilayah Ubullah, sebuah kota di wilayah kekuasaan Persia.

 

Sekitar dua puluh tahun sebelum Rasulullah diutus, pasukan Romawi menyerang wilayah Ubullah dan mengalahkannya. Para wanita dan anak-anak dijadikan tawanan. Kemudian dibawa ke wilayah Romawi dan dijual sebagai budak. Shuhaib kecil termasuk di dalamnya. Ia menjadi budak belian di wilayah Romawi. Karena saat itu dia masih begitu kecil, sehingga berbagai hal terkait Romawi melekat di dirinya, termasuk bahasa dan dialeknya. Dia tumbuh dewasa di lingkungan Romawi sebagai budak.

 

Sampai suatu hari seorang saudagar Mekkah, Abdullah bin Jud’an, membelinya dan membawanya ke Mekkah. Melihat potensi dalam diri Shuhaib, Abdullah bin Jud’an kemudian memerdekakannya dan menjadikannya rekan dalam kegiatan perniagaan. Shuhaib pun lambat laun berubah menjadi seorang saudagar yang cukup kaya.

 

************

 

Berita mengenai Muhammad yang mengaku diutus sebagai Rasullullah dan mendakwahkan agama Islam akhirnya terdengar oleh Shuhaib. Ketertarikan muncul di dalam hatinya untuk menemuinya. Shuhaib pun bertanya pada seseorang, dan ditunjukkanlah rumah Arqom. Tak lama, dia pun dengan mantap mendatangi rumah Arqom.

 

Sesampainya di rumah Arqom dia berpapasan dengan Ammar bin Yasir. Dia pun bertanya pada Ammar, “Ammar, apa yang akan kamu inginkan?” Ammar pun bertanya balik, “Apa yang ingin kamu lakukan, Shuhaib?”

 

“Aku ingin bertemu Muhammad dan mendengarkan perkataannya.” jawab Shuhaib gamblang. “Aku juga sama seperti dirimu.” timpal Ammar. Mereka pun masuk dan mendengarkan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Allah pun menanamkan keimanan di hati mereka. Hari itu mereka berdua menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.

 

Bersyahadat bagi kedua sahabat ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Ammar adalah seorang lelaki miskin keturunan perantau yang saat itu hidup di bawah naungan Bani Makhzum. Sedangkan Shuhaib adalah pendatang mantan budak yang dimerdekakan di Mekkah tanpa terikat dengan kabilah tertentu. Bagi mereka berdua mengikuti ajaran Islam adalah pilihan yang beresiko, baik untuk keselamatan harta ataupun jiwanya. Namun mereka memilih untuk terus menyemai keimanan yang telah tertanam di hati mereka.

 

************

 

Perintah untuk hijrah sudah diberikan. Sebagian sahabat sudah mulai berangsur-angsur berangkat ke Yatsrib. Rasulullah pun akhirnya diberikan perintah oleh Allah untuk turut hijrah ke sana. Tak mudah bagi para sahabat maupun Rasulullah sendiri untuk melaksanakan hijrah itu. Banyak rintangan, juga banyak pengorbanan, namun penuh akan harapan.

 

Shuhaib sudah berencana untuk turut berhijrah ke Yatsrib secepatnya, namun orang-orang Quraisy dengan segala daya dan upaya menghalang-halangi niatnya itu. Bahkan ada beberapa orang yang ditugaskan untuk mengawasi Shuhaib secara langsung. Dia tidak bisa untuk pergi ke Yatsrib tanpa mengelabui mereka.

 

Shuhaib pun berhasil mengelabui mereka dan pergi menyusul sahabat-sahabatnya. Namun tak lama, orang-orang Quraisy menyadarinya dan mengirimkan para pemburu untuk mengejarnya. Keahlian para pemburu ini tidak perlu diragukan, tak sulit bagi mereka untuk menemukan Shuhaib. Melihat kehadiran mereka, Shuhaib pun mengambil posisi untuk bertahan menghadapi mereka sembari menyiapkan busur dan anak panahnya.

 

Shuhaib berseru, “Hai orang-orang Quraisy, kalian sudah tahu bahwa aku termasuk pemanah diantara kalian. Kalian tidak akan pernah sampai kepadaku sampai aku lepaskan anak-anak panah ini pada kalian. Setelah itu aku pun masih memiliki sebilah pedang yang akan aku gunakan untuk menebas kalian.” Mereka pun menjawab, “Hai Shuhaib, dulu kamu mendatangi kami dalam keadaan miskin dan hina. Lalu engkau mendapatkan harta yang banyak dan kedudukan yang kamu nikmati. Sekarang kamu akan membawa harta dan jiwamu begitu saja? Demi Allah itu tidak akan terjadi!”

 

“Bagaimana jika aku tinggalkan seluruh hartaku, apakah kalian akan membiarkan aku pergi?” kata Shuhaib. “Baiklah.” jawab mereka. Shuhaib pun menunjukkan tempat penyimpanan harta benda yang dia kumpulkan lalu menyerahkan pada mereka. Setelah itu Shuhaib bergegas pergi menuju Yatsrib.

 

Shuhaib akhirnya sampai di Quba setelah berupaya keras menyusul hijrahnya Rasulullah beberapa hari sebelumnya. Saat Shuhaib sudah berada dekat dengan Rasulullah, beliaupun bersabda, “Perniagaan yang menguntungkan wahai Abu Yahya”. Rasulullah mengulang perkataannya sebanyak tiga kali.

 

Rasulullah telah mendapatkan kabar dari Jibril mengenai pengorbanan Shuhaib. Bahkan Allah pun menegaskannya dalam firman-Nya

 

(وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ)

[Surat Al-Baqarah 207]

” Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

 

Beruntunglah Shuhaib yang telah mengorbankan seluruh harta yang dikumpulkannya seumur hidupnya untuk mencari keridhaan Allah. Dan kemudian Allah pun meridhainya. Bukankah itu yang dicari? Bukankah itu yang kita cari?

 

(LHI)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Shalabi, Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here