Home Sahabat Nabi Mush’ab bin Umair -Sang Duta-

Mush’ab bin Umair -Sang Duta-

74
0
SHARE

Setiap kali Rasulullah mengingatnya, beliau berkata, “Aku tidak melihat seorang pun di Mekkah yang paling indah rambutnya, paling bagus pakaiannya dan paling mewah kehidupannya, melebihi Mush’ab bin Umair.”

************

 

Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda Mekkah yang kehidupannya menjadi dambaan banyak orang. Dia berasal dari keluarga yang kedudukannya mulia di masyarakat, orang tuanya memiliki harta yang banyak juga memberikan berbagai kemudahan dan kenyamanan hidup bagi dirinya, dia juga pandai, indah akhlaknya lagi elok penampilannya. Berbagai keindahan tampaknya menyatu dalam dirinya.

 

Suatu hari dia mendengar bahwasanya Muhammad, yang telah dikenal kejujurannya, menyatakan bahwa dirinya telah diutus oleh Allah untuk membawa kabar gembira dan juga peringatan bagi manusia. Saat itu pun Allah mulai memasukkan hidayah-Nya ke dalam hatinya. Dia ingin segera berjumpa dengan Rasulullah.

 

Tak lama kemudian, terdengarlah kabar bahwa Rasulullah mengadakan pertemuan untuk mempelajari Islam di sekitar bukit Shafa, di rumah Arqom bin Abi Arqom. Segeralah dia menuju ke sana. Sesampainya di rumah Arqom, Rasulullah sedang mengajarkan Al-Quran dan shalat. Dia pun duduk bergabung dengan para sahabat Rasulullah.

 

Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah merasuk ke dalam hatinya. Mush’ab terpesona dan juga mengakui akan kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Dia pun langsung menyatakan keislamannya.

 

Setelah itu dia menyembunyikan keislaman dirinya dari keluarganya karena permusuhan keluarganya yang keras pada kaum muslimin dan ajaran Islam. Namun akhirnya seorang penduduk Mekkah melihat dirinya masuk ke dalam rumah Arqom dan juga melaksanakan shalat seperti para pengikut Rasulullah.

 

Kabar ini pun sampai ke telinga ibunya yang masih sangat memegang teguh ajaran nenek moyangnya. Ibunya murka mendengar kabar Islamnya anak yang selama ini sangat dia kasihi. Mush’ab pun mendapat berbagai cobaan dari keluarganya itu. Disiksa, diambil segala kemewahan hidupnya hingga dikurung menjadi ujian yang harus ditanggung oleh Mush’ab.

 

Setelah kaum muslimin semakin banyak, juga siksaan yang diberikan oleh orang-orang musyrik Mekkah semakin menjadi, Rasulullah memberikan perintah untuk berhijrah ke Habasyah. Mendengar perintah itu, Mush’ab mencari cara untuk menyusul sahabatnya yang sudah terlebih dahulu berhijrah. Akhirnya dia berhasil meloloskan diri dari kurungan keluarganya.

 

Segala kemewahan yang selama ini dia nikmati, ditinggalkan demi mempertahankan keimanannya. Kampung halaman yang dicintainya, ditinggalkan demi mempertahankan agamanya. Kemiskinan pun akhirnya menjadi kawan setianya. Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku melihatnya berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Islam hingga aku pernah melihat kulitnya kering bersisik, bajunya usang, sampai-sampai kami menawarinya pelana kami agar kami memboncengnya karena ia terlihat lemas.”

 

Masih segar dalam ingatan di saat dia berjalan di Mekkah dengan pakaian yang indah, minyak wangi yang harum, rambut yang tersisir dengan rapi. Namun kali ini semuanya menjadi sangat berbeda. Setiap kali Rasulullah mengingatnya, beliau berkata, “Aku tidak melihat seorang pun di Mekkah yang paling indah rambutnya, paling bagus pakaiannya dan paling mewah kehidupannya, melebihi Mush’ab bin Umair.”

 

Semuanya dikorbankan karena cinta pada Allah dan Rasul-Nya.

 

************

 

Perjuangan Rasulullah mencari dukungan akhirnya menunjukkan secercah harapan dari arah Yatsrib. Dua belas orang, sepuluh orang dari suku Khazraj dan dua orang dari suku Aus membaiat Rasulullah di Aqabah. Orang-orang pertama yang menjadi pintu masuknya Islam ke kota yang kelak disebut Madinah.

 

Rasulullah kemudian mengutus seorang duta yang akan bertugas mengajarkan Islam dan Al Qur’an pada penduduk Yatsrib. Mush’ab lah yang kemudian terpilih untuk menjalankan tugas mulia itu. Dia dipilih oleh Rasulullah karena berbagai keutamaan yang dimilikinya. Akhlaq yang mulia, pemikiran yang cemerlang, tutur kata yang lembut serta keikhlasannya berjuang untuk Islam adalah beberapa keutamaan dirinya, walaupun dia tergolong masih muda diantara sahabat Rasulullah.

 

Di Yatsrib, Mush’ab tinggal di tempat As’ad bin Zurarah, salah satu dari dua belas orang yang berbaiat. Mereka mendatangi kabilah demi kabilah, rumah demi rumah dan berbagai tempat untuk mendakwahkan Islam. Ketertarikan akan agama baru ini menyebar di berbagai kabilah di Yatsrib. Satu per satu mulai mengikuti ajaran Islam.

 

Suatu hari mereka sedang mendakwahkan Islam pada beberapa orang Bani Abdul Asyhal di kebun kurma dekat perkampungannya. Berita itu lalu sampai ke telinga Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz, kedua pimpinan Bani Abdul Asyhal. Mendengar itu Sa’ad berkata, “Janganlah engkau enggan, cepatlah kamu pergi menemui anak muda dari Mekkah itu yang datang ke perkampungan kita untuk membodoh-bodohi orang-orang lemah diantara kita. Maka ancamlah mereka karena telah memasuki perkampungan kita. Seandainya dia bukan tamu sepupuku As’ad, tentu aku telah menemuinya.”

 

Usaid pun bergegas pergi mendatangi kebun itu dengan membawa tombaknya, dengan membawa kemarahannya. Melihat Usaid datang dari kejauhan, As’ad berkata, “Itu adalah pemimpin kaumnya, Usaid bin Hudhair. Orang yang paling bagus akalnya diantara mereka dan paling baik sifatnya. Berikanlah penjelasan yang baik tentang Islam kepadanya.”

 

Sesampainya di tengah pertemuan itu, Usaid berkata, “Apa tujuan kalian datang kepada kami dan membodohi orang-orang lemah diantara kami? Jika kalian masih mau hidup, maka pergilah dari perkampungan kami.” Maka Mush’ab pun menjawabnya dengan lembut dan menarik, “Maukah engkau duduk dan mendengarkan terlebih dahulu. Jika engkau dapat menerima, tentu engkau akan menerimanya. Namun jika engkau membencinya, kami akan menghentikan apa yang engkau benci.”

 

Usaid berkata, “Engkau benar. Baiklah.” Lalu ia pun duduk mendengarkan penjelasan tentang Islam dan juga beberapa ayat Al Qur’an yang dibacakan oleh Mush’ab. Orang-orang yang hadir di pertemuan itu melihat bahwa air muka Usaid berangsur-angsur berubah dan menjadi lebih bercahaya. Cahaya iman telah menyeruak dari dalam dirinya. Tak  lama dia pun berkata, “Alangkah bagusnya perkataan ini. Apa yang kalian lakukan jika kalian ingin memasuki agama ini?” Mush’ab menjawab, “Engkau harus mandi menyucikan diri, menyucikan pakaian, kemudian bersyahadat lalu kemudian engkau shalat.”

 

Usaid pun segera melakukan hal itu dan bergabung ke dalam barisan orang-orang beriman. Setelah itu Usaid berkata pada mereka berdua, “Di belakangku ada seseorang yang jika dia mengikuti agama kalian maka tidak akan ada seorangpun dari kaumnya yang akan menolaknya. Dia adalah Sa’ad bin Mu’adz.”

 

Usaid tahu bahwa Sa’ad tidak akan mau datang bertemu dengan Mush’ab kecuali dengan sedikit muslihat. Dia pun berkata pada Sa’ad bahwa Bani Haritsah berniat mencelakai sepupunya, As’ad. Mendengar itu, Sa’ad langsung mengambil tombaknya dan datang ke kebun untuk menolong As’ad. Ternyata semuanya baik-baik saja. Sadarlah dia bahwa Usaid hanya ingin mempertemukan antara dirinya dan anak muda dari Mekkah itu. Kejadian yang hampir serupa terjadi pada Sa’ad dan berakhir pada Islamnya Sa’ad.

 

Setelah itu Sa’ad kembali menemui Usaid lalu berdua mendatangi kaumnya. Dia lalu berkata pada kaumnya, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang keputusanku untuk kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling baik pendapat dan pertimbangannya untuk kami.”

 

Lalu ia berkata, “Aku menyatakan bahwa perkataan pria dan dan wanita diantara kalian adalah haram bagi diriku sehingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak akan membiarkan satu rumah pun dari Bani Abdul Asyhal kecuali mereka menjadi seorang muslim.”

 

Tak lama setelah itu salah satu pemimpin Yatsrib lainnya Sa’ad bin Ubadah memeluk Islam. Kabar keislaman ketiga pemimpin ini; Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah; menyebar di kalangan masyarakat Yatsrib. Orang-orang pun berkata, “Jika mereka sudah mengikuti ajaran Islam, apa lagi yang kita tunggu?”
Tersebarlah dan berakarlah Islam di Yatsrib yang tak lama lagi akan menjadi Madinah Al Munawwarah. Jikalau hijrah adalah sebuah bangunan, maka dakwah yang dilakukan oleh Mush’ab adalah pondasi yang menopangnya.

************

 

Pasukan pemanah muslimin melalaikan perintah Rasulullah. Mereka meninggalkan pos pertahanan di atas bukit dan turun ke gelanggang pertempuran untuk ikut mengambil pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Quraisy.

 

Hal ini dimanfaatkan oleh pasukan berkuda Quraisy untuk berputar mengejar barisan belakang pasukan muslimin. Arah peperangan Uhud pun berubah. Pasukan muslimin yang sebelumnya di atas angin, berhasil mengobrak-abrik barisan pasukan musyrikin, berganti menjadi hancur berantakan barisannya.

 

Mush’ab bin Umair memegang salah satu Panji perang Rasulullah. Dia terus mengibarkan panjinya sambil terus memanggil pasukan muslimin yang tercerai-berai. Saat dia melihat Rasulullah terdesak, sekuat tenaga dia menghalangi gerakan pasukan musyrikin. Pedangnya berkelibatan menghantam pasukan musyrikin yang ada di dekatnya. Tak sedikit pasukan musyrikin yang tersungkur di tangannya.

 

Sampai akhirnya seorang penunggang kuda Quraisy, Ibnu Qami’ah, menebaskan pedangnya pada tangan kanan Mush’ab hingga terpotong. Lalu dia pegang panji itu dengan tangan kirinya, dan tangan kirinya pun terpotong. Dia pegang panji itu dengan kedua pangkal lengannya hingga akhirnya Ibnu Qami’ah menusukkan tombaknya pada tubuh Mush’ab. Dia pun tersungkur roboh, syahid.

 

************

 

Selepas peperangan itu, para sahabat masih mengingat rekan-rekannya yang telah syahid mendahului mereka. Khabbab bin Al Arat berkata, “Kami hijrah bersama Rasulullah dengan mengharap ridha Allah, maka Allah memberikan balasan kepada kami. Diantara kami ada yang belum mendapatkan balasan di dunia ini sedikitpun. Mush’ab bin Umair salah satu diantaranya. Ia terbunuh di perang Uhud. Kami tidak menemukan sesuatupun untuk mengkafaninya, kecuali sehelai kain, yang jika kami menutupkan kepalanya, maka kakinya kelihatan. Jika kami menutup kakinya, maka kepalanya kelihatan. Maka Rasulullah bersabda, ‘Tutuplah kepalanya dengan kain dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkir (rumput yang berbau harum)’.”

 

Abdurrahman bin Auf berkata, “Mush’ab bin Umair telah terbunuh, padahal dia adalah orang yang lebih baik dariku. Namun saat hendak dikafani tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali sehelai Burdah. Dan Hamzah terbunuh atau orang lain yang lebih baik dariku, lalu tak ada kain yang bisa dijadikan kafan untuknya. Aku khawatir jika kebaikan kita disegerakan di dunia ini.” Lalu ia pun mulai menangis.

 

Rasulullah pun saat memeriksa saat memeriksa korban perang Uhud dari pihak muslimin menemukan beberapa jenazah sahabatnya, termasuk Hamzah dan Mush’ab. Lalu beliau berhenti untuk berdoa memohon kebaikan untuk mereka. Beliau lalu membacakan firman Allah,

 

(مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا)

[Surat Al-Ahzab 23]

” Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”

 

Setelah itu beliau bersabda, “Sungguh kelak  di hari Kiamat, Aku bersaksi bahwa mereka adalah para syuhada. Maka datangilah dan ucapkan salam pada mereka. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tak seorangpun mengucapkan salam kepada mereka hingga hari Kiamat, kecuali mereka akan menjawab salam itu.”

 

Assalamu’alaikum, wahai para syuhada…

 

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Shalabi, Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here