Home Sahabat Nabi Salman Al Farisi – Pencari Kebenaran Sejati –

Salman Al Farisi – Pencari Kebenaran Sejati –

72
0
SHARE
salman al farisi

Rasulullah meminta para sahabatnya untuk sedikit menjauhi batu besar yang masih teronggok di parit yang sedang digali itu. Lalu beliau menghantam batu dengan beliungnya itu hingga menimbulkan percikan bunga api yang terang. “Allahu Akbar. Aku telah dikaruniai kunci negeri persia. Kilatan api tadi memperlihatkan istana Kisra dan kota para raja-raja Persia. Umatku akan menguasainya.” sabda Rasulullah.
************

Salman Al Farisi adalah seorang pencari kebenaran sejati. Usahanya untuk mencari kebenaran sangat panjang dan berliku, sulit dicarikan bandingannya…

 

Salman berkisah bahwa dia berasal dari sebuah desa di wilayah Ishfahan, Persia. Ayahnya adalah kepala kampung yang kaya raya dan mulia kedudukannya di masyarakat dan sangat menyayangi dirinya. Salman mempelajari agama Majusi secara sungguh-sungguh dan membaktikan diri sebagai penjaga api yang memastikan api peribadatan tetap menyala.

Ayahnya memiliki sebidang tanah garapan yang cukup luas. Namun karena dia tidak bisa mengurusnya, diminta lah Salman untuk pergi mengurus tanah tersebut.

Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah gereja orang-orang Nasrani. Dia memperhatikan tata cara ibadahnya, mendengarkan pujian-pujian yang dilantunkan. Tanpa sadar dia telah berlama-lama di gereja itu hingga matahari terbenam. Dalam hati dia berkata, “Ini lebih baik dari agama yang selama ini aku anut.”. Dia lalu bertanya pada mereka mengenai asal agama ini. Mereka menjawab bahwa agama ini berasal dari daerah Syam.

Sesampainya di rumahnya, dia bercerita pada ayahnya mengenai apa yang dia lihat saat berada di gereja tadi, mengenai menakjubkannya agama mereka dan lebih baiknya agama itu dibandingkan dengan agama yang mereka anut. Lalu terjadi dialog antara mereka yang berujung marahnya sang ayah dan dikurungnya Salman.

Salman memberi tahu orang-orang Nasrani di gereja itu akan ketertarikannya pada agama mereka dan meminta untuk dikabari jika ada rombongan yang akan berangkat ke arah Syam. Dan saat waktunya tiba, dia berhasil meloloskan diri lalu meninggalkan kampung halamannya, kekayaan hidup di keluarganya untuk memuaskan dahaga jiwanya yang sedang mencari kebenaran sejati.

Sesampainya di Syam dia bertanya pada orang-orang mengenai ahli agama mereka. Lalu mereka menunjukkan seorang pendeta di sebuah gereja. Kemudian dia tinggal bersamanya untuk belajar, beribadah dan menjadi pelayannya. Namun sayang, pendeta ini memiliki sifat yang kurang baik karena suka menumpuk uang sedekah dan menggunakannya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Tak berapa lama pendeta ini meninggal dunia, digantikan oleh seseorang yang sangat shalih, berakhlak baik dan zuhud terhadap dunia. Salman tetap menjadi pelayan di sana seraya terus belajar dan beribadah. Saat pendeta ini sudah mendekati ajalnya, Salman bertanya, “Anda tahu bahwa kematian akan menjemput anda. Apa yang harus aku lakukan? Kepada siapa aku harus belajar?”.

“Aku hanya mengetahui seseorang sepertiku. Dia tinggal di daerah Mosul. Pergilah kepadanya.” Jawab si pendeta.

Sepeninggalnya, Salman langsung menuju Mosul untuk mencari orang tersebut. Kemudian Salman tinggal menyertai pendeta itu cukup lama hingga akhirnya orang itu meninggal dunia. Sebelum pendeta ini meninggal dunia,  Salman bertanya hal serupa dan diarahkan untuk menemui seseorang di daerah Nashibin, sebuah daerah antara Mosul dan Syam.

Di Nashibin, Salman menyertai pendeta itu. Sama seperti sebelumnya, dia dengan tekun melayaninya, sambil terus belajar dan beribadah. Sampai akhirnya pendeta ini meninggal. Salman meminta petunjuk, kepada siapa lagi dia harus belajar? Ditunjukkanlah seorang pendeta lagi di daerah Amuria, sebuah daerah di wilayah kekuasaan Romawi.

Di Amuria, selain belajar pada pendeta yang dia tuju, Salman pun mulai beternak sapi dan kambing hingga jumlahnya cukup banyak. Pendeta di Amuria ini juga merupakan seorang ahli ibadah, berakhlak baik juga zuhud terhadap dunia. Setelah beberapa waktu Salman belajar pada pendeta ini, sudah tampaklah bahwa ajal akan segera menjemput pendeta itu. Kembali dia meminta pendapat, kepada siapa lagi dia harus belajar?

“Aku tidak mengetahui lagi ada orang sepertiku ini. Namun saat ini ada nabi yang telah diutus dengan meneruskan ajaran Ibrahim. Dia diutus di tanah Arab. Aku hanya bisa menunjukkan tanda-tandanya saja. Dia akan berpindah ke suatu tempat diantara batu hitam yang memiliki banyak pohon kurma. Dia memiliki tanda kenabian di pundaknya. Dia tidak menerima sedekah namun menerima hadiah.” urai pendeta itu pada Salman. Lalu tak seberapa lama sang pendeta meninggal dunia.

Beberapa waktu kemudian ada serombongan kabilah Arab yang melintas di Amuria. Salman lalu menawarkan hewan ternaknya sebagai biaya agar dia bisa dibawa ke tanah Arab. Namun sesampainya di daerah Wadil Qura, rombongan itu mengkhianati dirinya sehingga dia dijual di pasar budak. Salman dibeli oleh sebuah kabilah Yahudi yang tinggal di pinggiran jazirah Arab. Saat dibawa ke tempat majikannya, dia melewati suatu daerah yang ditumbuhi banyak kurma dan sempat mengira bahwa itu adalah tempat yang dituju. Tapi ternyata bukan.

Suatu hari seorang kerabat majikan Salman, dari Bani Quraizhah, membeli Salman dan membawanya ke Madinah. Di situlah dia merasa bahwa tempat inilah yang tepat, yang akan dijadikan tempat hijrah nabi yang akan diutus nanti. Dia terus bekerja dengan tekun sambil mencari kabar tentang nabi itu.

Hari itu, saat Salman sedang bekerja di atas sebuah pohon kurma, “Celakalah Bani Qailah, mereka berkumpul di Quba mengelilingi seorang lelaki. Dia berasal dari Mekkah dan mengaku sebagai nabi.” kata seseorang pada majikannya. Dengan bergegas, Salman turun dan berkata, “Apa yang tuan katakan? Tolong ulangi lagi.”. Lalu majikannya berkata dengan marah, “Apa urusanmu? Cepat kembali lagi bekerja!”.

Sore harinya, Salman mengumpulkan  kurma dan membawanya ke hadapan Rasulullah. “Tuan-tuan adalah perantau yang membutuhkan bantuan. Saya telah mengumpulkan makanan yang saya siapkan sebagai sedekah. Saya rasa tuan-tuan berhak menerimanya.” kata Salman pada Rasulullah. Rasulullah pun mempersilakan sahabat-sahabatnya untuk makan kurma itu tanpa sedikitpun Beliau ikut memakannya.

“Demi Allah, ini adalah bukti pertama.” dalam hati Salman berkata.

Keesokan harinya, ia melakukan hal yang sama. “Aku melihat tuan tidak menerima sedekah. Aku mengumpulkan makanan ini sebagai hadiah untuk tuan.” Kata Salman. Tak lama Rasulullah pun mempersilakan sahabat-sahabatnya dan juga ikut memakannya.

“Demi Allah, ini adalah bukti kedua.” dalam hati Salman berkata.

Selang beberapa waktu kemudian Salman menemui Rasulullah yang sedang memakamkan jenazah sahabatnya di perkuburan Baqi. Salman mendekati Rasulullah sambil berusaha melihat pundak Rasulullah. Melihat gelagat Salman, Rasulullah menyadarinya lalu menurunkan sedikit kain di pundaknya hingga terlihat tanda kenabian di pundaknya.

Salman pun menghambur memeluk Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Tak lupa Rasulullah menanyakan  dan memintanya menceritakan kisahnya yang menakjubkan. Beberapa waktu setelah kejadian itu Rasulullah meminta beberapa sahabat untuk membantu Salman menebus kemerdekaan dirinya dari majikannya.

************

Hari-hari itu kondisi Madinah sangat mencekam karena ada desas desus terjadinya pengerahan pasukan besar-besaran dari Quraisy, Kabilah Ghatafan dengan dibantu beberapa kabilah yang masih memusuhi Islam. Pasukan ini bergerak menuju Madinah untuk meluluh lantakan embrio negara Islam yang baru bertumbuh di sana. Jumlah pasukan yang sama sekali tidak sebanding, dilihat dari sisi jumlah maupun peralatan perang yang dimiliki.

Pada saat desas desus itu semakin jelas kebenarannya, Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk bermusyawarah mencari solusi untuk menghadapi kondisi itu. Di situlah Salman menorehkan prestasi besar dalam sejarah Islam.

Salman telah melihat banyak peperangan di negerinya dulu. Lalu Ia mengusulkan untuk membuat parit di salah satu sisi kota Madinah. Salah satu sisi saja yang dibuat karena sisi lainnya sudah memiliki perlindungan alami berupa perbukitan. Rasulullah dan kaum muslimin pun setuju dengan usulan itu dan segera membagi kelompok untuk menyelesaikannya.
Suatu ketika, di kelompok dimana Salman berada di dalamnya, ada sebuah batu besar yang tepat berada di rencana jalur parit perlindungan itu. Tak ada yang mampu untuk menghancurkan batu itu. Mereka pun melaporkan pada Rasulullah dan mengusulkan untuk menggeser jalurnya. Rasulullah langsung mendatangi batu itu.

Rasulullah meminta para sahabatnya untuk sedikit menjauhi batu besar yang masih teronggok di parit yang sedang digali itu. Lalu beliau menghantam batu dengan beliungnya itu hingga menimbulkan percikan bunga api yang terang. “Allahu Akbar. Aku telah dikaruniai kunci negeri persia. Kilatan api tadi memperlihatkan istana Kisra dan kota para raja-raja Persia. Umatku akan menguasainya.” sabda Rasulullah.

Hantaman kedua telah dilakukan dan menimbulkan percikan api yang serupa dengan yang lalu. “Allahu Akbar. Aku telah dikaruniai kunci-kunci Romawi. Kilatan api tadi menunjukkan istana merah. Umatku akan menguasainya.”

Pada pukulan ketiga Rasulullah pun menyatakan hal yang serupa, bahwa muslimin akan menguasai negeri Syam, Yaman dan banyak negeri lainnya. “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-nya. Ini pasti benar.” seru kaum muslimin di sekitar Rasulullah.

Salman adalah salah satu yang melihat langsung kejadian itu dan juga menjadi salah satu sahabat yang melihat terbuktinya kabar yang disampaikan oleh Rasulullah di hari itu.

************

Salman saat itu ditunjuk menjadi Gubernur Madain, dengan tunjangan yang sangat besar, mencapai ribuan Dinar per tahun. Namun semuanya ia sedekahkan. Tak sedikitpun ia ambil untuk kepentingan dirinya. “Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Lalu aku anyam menjadi keranjang dan kujual seharga tiga dirham. Satu dirham aku gunakan sebagai modal kerja, satu dirham untuk belanja keluargaku dan satu dirham untuk sedekah. Walaupun Khalifah Umar melarangku untuk berbuat demikian, namun aku tidak mau menghentikannya.” papar Salman.

************

Ya, itulah Salman Al Farisi. Seorang lelaki mulia yang berjuang sedemikian gigihnya untuk mencari kebenaran sejati. Dan saat dia temukan apa yang dia cari, seluruh dunia menjadi tidaklah berarti.

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Ibnu Katsir. Al Bidayah wan Nihayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here