Home Sahabat Nabi Abu Dzar Al Ghifari -Teladan kezuhudan-

Abu Dzar Al Ghifari -Teladan kezuhudan-

73
0
SHARE
abu dzar al ghifari

Melihat kedatangan Abu Dzar, Rasulullah tersenyum seraya bersabda, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”

************

Jundub bin Junadah, yang nama panggilannya lebih dikenal Abu Dzar, adalah seorang lelaki dari suku Ghifar yang hidup di Lembah Waddan, sebuah celah jalur keluar dari daerah Mekkah. Orang-orang Ghifar saat itu terkenal sebagai penyamun yang cukup membahayakan kafilah dagang yang melintas di wilayah itu.

Abu Dzar semenjak masa jahiliyah memiliki sifat yang jujur, hati yang teguh, akal yang matang dan pemikiran yang jauh ke depan. Oleh karena itu, Abu Dzar sejak lama membenci penyembahan berhala dan sangat menantikan datangnya risalah yang mengesakan Allah semata.

Sampai akhirnya dia mendengar bahwa ada seorang nabi yang diutus di Mekkah, membawa ajaran yang dinantikannya…

Abu Dzar kemudian berjalan menuju Mekkah untuk menemui orang yang mengaku sebagai nabi utusan Allah seraya berpura-pura seakan mau beribadah menyembah berhala-berhala di Ka’bah. Dia sudah mendengar bahwa sang pembawa risalah dimusuhi oleh kaumnya dan pengikutnya juga tentu akan dimusuhi. Dia tidaklah gentar dengan hal-hal seperti itu namun untuk saat ini semua tindakan yang dilakukan harus sehati-hati mungkin agar tujuan utama bertemu dengan Rasulullah tercapai.

Sesampainya di Mekkah, Abu Dzar hanya duduk-duduk di sekitar Ka’bah selama beberapa hari tanpa bertanya pada siapapun. Sampai akhirnya dia mendapatkan cukup informasi mengenai Rasulullah.

Abu Dzar langsung mendatangi Rasulullah dan meminta untuk diajari sesuatu. Rasulullah pun mengajari beberapa ayat Al Qur’an yang telah diturunkan. Dan tidak butuh waktu yang lama bagi Abu Dzar untuk menyatakan syahadatnya. Lalu dia tinggal beberapa saat bersama Rasulullah untuk mempelajari keislaman. Saat Rasulullah tahu bahwa Abu Dzar berasal dari suku Ghifar, beliau berkata “Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki.”

“Apa yang harus kulakukan, ya Rasulullah?” Abu Dzar bertanya pada Rasulullah. “Pulanglah ke kampungmu sampai ada perintah dariku.” jawab Rasulullah. “Sungguh, demi Zat yang jiwaku berada di tanganNya, aku tidak akan pulang sebelum menyampaikan Islam di Ka’bah.” jawab Abu Dzar. Rasulullah hanya mendiamkan rencana Abu Dzar tadi.

Selang beberapa waktu kemudian, Abu Dzar benar-benar merealisasikan niatnya. Dia datang ke sekitar Ka’bah saat cukup banyak pemuka Quraisy di sana. Sesampainya di sana, langsung dia nyatakan kalimat tauhid, “Asyhadu alla ilaha Illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”. Itulah saat pertama Islam disuarakan dengan lantang di muka para pemuka Quraisy.

Sejenak kemudian, orang-orang Quraisy menyadari bahwa ada tantangan yang nyata yang disampaikan di muka mereka. Tantangan yang disampaikan oleh seorang asing yang tidak punya kedudukan juga tidak memiliki pelindung di Mekkah. Hal itu membuat mereka kaget dan marah sehingga langsung memukuli Abu Dzar hingga hampir pingsan. Hingga akhirnya Abbas bin Abdul Muthalib datang menyelamatkannya dan berkata pada orang-orang Quraisy, “Celaka kalian! Kalian adalah pedagang yang selalu melalui wilayah Ghifar, sedangkan yang kalian pukuli ini adalah tokoh suku Ghifar.”

Setelah itu Abu Dzar kembali ke kampungnya dan mendakwahkan Islam di sana. Dia terus berada di sana mengajak satu per satu orang, dari keluarga ke keluarga hingga ke suku Aslam yang berada di dekat kampungnya. Dia berada di sana hingga beberapa tahun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Suatu hari, dari kejauhan terlihat rombongan besar menuju Madinah. Mengepulkan debu padang pasir ke angkasa. Jika tidak ada gemuruh takbir dan tahlil dari rombongan itu, niscaya orang akan berpikir bahwa akan ada serangan lain ke Madinah. Setelah rombongan itu masuk ke Madinah, tampaklah bahwa mereka adalah rombongan dari suku Ghifar dan Aslam yang dipimpin oleh Abu Dzar Al-Ghifari. Rasulullah pun berkata pada mereka, “Ghifar, semoga Allah mengampuninya. Aslam, semoga Allah menyelamatkannya.”

Abu Dzar lalu tinggal di Madinah untuk berkhidmat pada Rasulullah. Melihat sifat sahabatnya ini, Rasulullah bersabda, “Tidak ada lagi orang sejujur Abu Dzar.” Perkataan Rasulullah itu bagaikan doa dan gambaran masa depan yang akan dilalui olehnya. Dia terus belajar dan menempa diri untuk mengejar nubuwat Rasulullah itu.

Di kesempatan lain Rasulullah bertanya pada Abu Dzar, “Apa yang akan kau lakukan jika kau hidup di bawah pemerintahan para pemimpin yang menguasai harta untuk kepentingan mereka sendiri.”.

Abu Dzar menjawab, “Demi yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku akan menebas mereka dengan pedangku.” Lalu Rasulullah berkata, “Maukah kau kuberi tahu yang lebih baik? Bersabarlah hingga kau bertemu denganku.”

Abu Dzar memegang teguh nasihat Rasulullah itu. Dia tidak akan menggunakan pedangnya untuk memperingatkan para pemimpin dan orang-orang kaya diantara muslimin. Tapi ia tidak akan berhenti untuk menggunakan lisannya untuk memberikan peringatan.

Sepeninggal Rasulullah, Abu Dzar pergi meninggalkan Madinah untuk bergabung dengan pasukan muslimin melawan bala tentara Romawi di wilayah Syam.

Di masa Abu Bakar dan Umar, selain karena kepemimpinan keduanya yang sangat kuat juga muslimin saat itu masih dalam kondisi peperangan yang sangat besar dengan Romawi dan Persia. Masyarakat Islam masih sangat bersemangat untuk menegakkan agama Allah. Belum perlu bagi Abu Dzar untuk menyampaikan peringatan-peringatannya, kecuali untuk hal-hal kecil di sekitarnya.

Namun di masa Utsman, harta sudah begitu banyaknya mengalir ke masyarakat muslim, daerah yang luas lagi subur makmur telah dikuasai. Godaan akan harta mulai menggeliat menarik hati kaum muslimin. Saat itulah Abu Dzar mulai menyampaikan peringatan demi peringatan kepada kaum muslimin, tak peduli miskin atau kaya, rakyat biasa atau pimpinan daerah, semua didatangi dan dinasehati. Apalagi Abu Dzar tinggal di daerah Syam yang sangat kaya.

Gubernur Syam saat itu Muawiyah bin Abu Sofyan pun tak bisa lepas dari nasehat-nasehat Abu Dzar. Hingga gerakan Abu Dzar ini membesar seantero Syam. Hal ini menimbulkan guncangan cukup besar di masyarakat. Abu Dzar terus menerus memperingatkan orang-orang untuk hidup sederhana sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Memperingatkan mereka yang menumpuk harta.
Gerakan ini mendapatkan dukungan masyarakat yang sangat luas.

Hal ini menimbulkan perbedaan pendapat antara Abu Dzar dengan Muawiyah juga akhirnya dengan Utsman. Abu Dzar pun dipanggil oleh Utsman ke Madinah.

Untuk menghindari perpecahan, Abu Dzar memilih untuk tinggal jauh dari Madinah juga jauh dari keramaian ke padang pasir, ke suatu tempat bernama Rabdzah.

************

Keberangkatan ekspedisi ke Tabuk sudah dilakukan. Cukup banyak kaum muslimin yang tertinggal di belakang karena situasinya sulit dan jaraknya yang jauh. Termasuk Abu Dzar yang kedelainya sangat lamban dalam berjalan. Sehingga dia tertinggal jauh di belakang. Oleh karena itu dia panggul perbekalannya lalu ditinggalkan keledainya. Dia berjalan mengejar rombongan.

Saat rombongan sedang beristirahat, salah seorang melihat ada orang berjalan sendirian mengejar mereka. Rasulullah berkata, “Semoga itu Abu Dzar.”

Setelah orang tersebut semakin dekat dengan rombongan, seseorang melaporkan pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, demi Allah, orang itu adalah Abu Dzar. Melihat kedatangan Abu Dzar, Rasulullah tersenyum seraya bersabda, “Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”

************

Hari itu Abu Dzar berada dalam kondisi sakitnya di Rabdzah ditemani oleh istrinya. Istrinya bersedih karena tidak memiliki kain kafan untuk mengafani Abu Dzar jika dia meninggal.

Abu Dzar tersenyum dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pernah berkata saat aku dan beberapa orang sedang duduk dekat dengan dirinya bahwa ada salah seorang di sini yang akan mati di padang pasir dan disaksikan oleh rombongan orang beriman. Semua rekanku sudah meninggal di tengah masyarakatnya.”. Lalu Abu Dzar kembali menghadap penciptanya, menyusul para sahabatnya.

Tak lama kemudian terlihat ada serombongan orang yang dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud berjalan mendekati kediaman Abu Dzar. Sesampainya di sana barulah Ibnu Mas’ud menyadari bahwa orang yang meninggal adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Lalu dia berkata, “Sungguh benar sabda Rasulullah bahwa Abu Dzar berjalan sendirian, mati sendirian dan dibangkitkan sendirian.”

Ya, kelak Abu Dzar Al-Ghifari akan dibangkitkan sendirian oleh Allah karena. Kebaikannya sangat banyak dan tidak ada yang bisa disandingkan dengannya.

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

Referensi:
Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Ibnu Katsir. Al Bidayah wan Nihayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here