Home Sahabat Nabi Ammar bin Yasir -Lelaki Penghuni Surga-

Ammar bin Yasir -Lelaki Penghuni Surga-

139
0
SHARE
ammar bin yasir

Pasukan Musailamah bin Habib al Kadzdzab berhasil membalikkan keadaan dan terus mendesak pasukan muslimin. Tak sedikit sahabat-sahabat Rasulullah yang terbunuh di Yamamah pada hari itu; Zaid bin Khattab, Abu Hudzaifah juga Tsabit bin Qais. Pada kondisi yang sangat genting itulah, Ammar bin Yasir berdiri di atas sebuah batu dan berseru, “Hai kaum Muslimin, apakah kalian hendak lari dari surga. Ini aku Ammar bin Yasir. Kemarilah!” Lalu ia kembali melompat kembali ke tengah pertempuran memporak-porandakan barisan musuh.

************
Yasir bin Amir mendatangi kota Mekkah bersama untuk mencari salah seorang saudaranya yang sudah bertahun-tahun hilang kabar. Ia datang dari daerah Yaman bersama saudaranya yang lain. Namun ternyata yang dicari tidaklah dijumpai.

Saat dia sampai di Mekkah, pesona Ka’bah dan pusaran peribadatan di sekitarnya ternyata membuat takjub dirinya. Juga pola kehidupannya, kegiatan orang-orangnya membuat dirinya cocok dengan kota itu. Akhirnya dia memilih untuk tinggal di sana, alih-alih kembali ke kampungnya di Yaman bersama saudaranya.

 

Namun Mekkah bukanlah kota yang ramah untuk seorang pendatang yang lemah seperti Yasir. Dia membutuhkan perlindungan dari seorang anggota kabilah yang cukup kuat. Akhirnya dia mendapatkan perlindungan dari Abu Hudzaifah bin Al Mughirah dari Bani Makhzum.

 

Yasir adalah seseorang yang memiliki sifat-sifat yang mulia, sehingga mudah bagi Abu Hudzaifah untuk menyayanginya. Selang beberapa lama, Abu Hudzaifah menikahkannya dengan salah satu budaknya yang bernama Sumayyah binti Khayyat. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak yang dinamai Ammar. Setelah kelahiran Ammar, Abu Hudzaifah pun memerdekakan Sumayyah dari perbudakan. Keluarga Yasir telah menjadi keluarga yang merdeka, walaupun mereka kedudukannya lemah di hadapan Bani Makhzum.

 

Mereka hidup tentram di Mekkah sampai Ammar dewasa dan mereka pun semakin senja. Hingga tiba-tiba orang-orang Mekkah membicarakan tentang Muhammad, seorang yang telah mereka kenal keutamaannya. Segeralah Ammar menyambut seruan Rasulullah serta menyatakan keislamannya. Begitupun kedua orang tuanya. Mereka termasuk generasi awal yang mengikuti ajaran Islam.

 

Keislaman keluarga Yasir membuat berang Bani Makhzum. Lalu kemudian orang-orang jahat diantara  mereka melakukan berbagai tindakan pengancaman dan bahkan penyiksaan.

 

Keluarga Yasir mengalami siksaan yang hampir serupa dengan rekan-rekan dari golongan lemah dan budak seperti Bilal atau Khabbab. Mereka merasakan diterlentangkan di padang pasir Mekkah, dicambuk, ditindih batu dan berbagai bentuk siksaan lainnya. Keletihan telah mendera tubuh mereka, namun mereka tetap teguh pada keimanannya.

 

Rasulullah dan para sahabatnya belum memiliki kekuatan untuk membela secara fisik, dan juga hal itu adalah skenario yang Allah siapkan sebagai contoh perjuangan dan pengorbanan untuk menyongsong tahap pembangunan peradaban Islam selanjutnya.

 

Rasulullah pada saat menyapa mereka bersabda, “Bersabarlah keluarga Yasir. Tempat kalian adalah di Surga.”  Sabda Rasulullah itu seketika menyapu penderitaan yang mereka rasakan dan berganti dengan sebuah harapan. Namun setelah beberapa waktu menjalani siksaan Yasir bin Amir akhirnya meninggal dunia, menjadikannya sebagai salah satu syahid pertama dalam sejarah Islam.

 

Tak lama kemudian giliran Sumayyah yang berhadapan dengan salah satu biang kejahatan, Abu Jahal. Di hari itu, Abu Jahal mendatangi Sumayyah yang sedang mengalami penyiksaan. Abu Jahal pun mencaci maki, ikut melakukan tindak kekerasan. Namun Sumayyah tidaklah goyah keimanannya. Sampai akhirnya emosinya memuncak lalu dia mengambil sebuah tombak dan menusukkannya ke tubuh Sumayyah dan menjadikannya sebagai Syahidah pertama dalam Islam.

 

Kesyahidan kedua orang tuanya tidak membuat Ammar patah semangat. Dia tetap teguh menjaga keimanannya. Namun keteguhan hatinya itu menyulut kemarahan para penyiksanya, sehingga mereka menimpakan siksaan yang jauh lebih berat lagi. Sampai di satu titik Ammar sudah tidak menyadari apa yang diucapkannya lagi, dia mengikuti ucapan-ucapan yang diminta oleh orang-orang musyrik itu.

 

Setelah sadar, dia merasa menyesal dan menangisi kesalahannya itu. Dia merasa bahwa keimanannya telah terangkat. Rasulullah kemudian mendatangi dirinya yang sedang meratapi kesalahan. Lalu beliau menanyakan apa yang telah terjadi, Ammar pun menjelaskan segalanya. Lalu beliau bersabda, “Jika mereka mengulanginya lagi, katakan apa yang kamu katakan tadi.” Lalu beliau membacakan firman Allah:

 

(مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌعَظِيمٌ)

 

” Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (Surat An-Nahl 106)

 

Kesalahannya telah mendapat jaminan kebebasan dari Allah. Sejak itu segala bentuk ujian tetap diterima oleh Ammar dengan tabah, sampai penyiksanya merasa kecil di hadapan Ammar.

 

************

 

Ammar telah dikaruniai nikmat berupa keimanan yang tak ternilai harganya. Berjuang dan berkorban, bahkan mengorbankan jiwanya sendiri pun terasa ringan saja bagi dirinya. Sejak awal dia menyatakan bai’at pada Rasulullah, sejak itu pun kesiapan menghadapi kesyahidan telah mengisi hatinya.

 

Suatu ketika saat Rasulullah berhijrah ke Madinah, beliau bersama sahabat-sahabatnya membangun Masjid. Mereka bergotong-royong mengangkat bata satu per satu. Namun Ammar membawa dua bata sekaligus sehingga kepalanya berdebu. Kemudian Rasulullah membersihkan kepalanya sambil berkata, “Kasihan engkau hai Ibnu Sumayyah, engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang.”

 

Di beberapa kesempatan lain Rasulullah memberikan pengakuan mengenai keutamaan Ammar. Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, “Aku mendengar Rasulullah berkata pada Ammar, ‘Jika manusia berselisih maka pendapat Ibnu Sumayyah berada di atas kebenaran.'”

 

Ammar menjadi seseorang yang sangat mencintai kebenaran, perjuangan dan pengorbanan. Dia mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah. Juga bersama para Khalifah sesudahnya. Kisah kepahlawanan dirinya terukir di Perang Yamamah, saat nabi palsu Musailamah bin Habib al Kadzdzab membangkang terhadap kepemimpinan Abu Bakar dan menolak untuk menjalankan banyak syariat Islam sepeninggal Rasulullah.

 

Musailamah berhasil menghimpun kekuatan yang sangat besar dengan inti kekuatannya adalah Bani Hanifah. Mereka memiliki pasukan yang kuat dengan persenjataan yang cukup hebat. Abu Bakar mengirimkan pasukan dengan komando Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah sebagai pasukan pembantu. Namun mereka masih belum cukup kuat untuk melawan pasukan kaum murtad ini. Lalu akhirnya dikirimlahlah Khalid bin Walid ke Yamamah untuk menumpas kaum murtad ini. Ammar termasuk salah satu pasukan dalam perang besar ini.

 

Perang pun akhirnya pecah di bumi Yamamah. Kedua pasukan saling desak mendesak berebut kemenangan dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi. Lalu pada suatu titik…

 

Pasukan Musailamah bin Habib al Kadzdzab berhasil membalikkan keadaan dan terus mendesak pasukan muslimin. Tak sedikit sahabat-sahabat Rasulullah yang terbunuh di Yamamah pada hari itu; Zaid bin Khattab, Abu Hudzaifah juga Tsabit bin Qais. Pada kondisi yang sangat genting itulah, Ammar bin Yasir berdiri di atas sebuah batu dan berseru, “Hai kaum Muslimin, apakah kalian hendak lari dari surga. Ini aku Ammar bin Yasir. Kemarilah!” Lalu ia kembali melompat kembali ke tengah pertempuran dan bersama-sama dengan pasukan muslimin lainnya, mereka memporak-porandakan barisan musuh.

 

Pasukan Musailamah pun tercerai berai, dan dengan mudah dikalahkan oleh pasukan muslimin. Sampai akhirnya Musailamah Al Kadzdzab tewas di tangan Wahsyi bin Harb dengan tombak yang sama yang dulu digunakannya untuk membunuh Singa Allah, Hamzah.

 

************
Di masa Umar, Ammar pernah ditunjuk sebagai gubernur Kufah dengan Abdullah bin Mas’ud sebagai pembantunya. Disana mereka menjalankan pemerintahan yang bersih sembari memberikan contoh menjalani kehidupan yang zuhud; yang sederhana.

Ibnu Abi Hudzail, seorang yang hidup dimasa Ammar menjadi gubernur Kufah, berkata, “Aku melihat Ammar yang saat itu adalah gubernur Kufah, membeli sayuran di pasar lalu mengikatnya dengan tali, memikulnya di atas punggung dan membawanya pulang ke rumah.”

 

Tak ada bedanya antara dirinya dengan orang-orang miskin di masyarakatnya. Sama seperti sahabatnya Salman yang masih mencari nafkah dengan menjual anyaman. Sama seperti pemimpinnya, Umar yang tetap hidup sederhana dan menjadi pelayan umatnya dengan membuatkan makanan untuk orang-orang yang memerlukan.

 

Tepatlah sabda Rasulullah, bahwa Ammar berada di atas kebenaran.

 

************

 

Di masa-masa huru-hara pasca terbunuhnya Utsman bin Affan, Ammar memilih untuk membai’at Ali bin Abi Thalib dan berjuang membelanya. Di saat terjadi perang Jamal, saat Zubair bin Awwam berhadapan dengan Ammar, Zubair teringat bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa Ammar akan terbunuh oleh kelompok pembangkang. Ia takut bahwa Ammar akan terbunuh dan dia masuk ke dalam golongan pembangkang akhirnya dia meninggalkan medan pertempuran.

 

Namun setelah itu peperangan pecah kembali di Shiffin antara pasukan dari wilayah Iraq yang dipimpin oleh Ali dan pasukan Syam yang dipimpin oleh Muawiyah.

 

Di peperangan itu Ammar sudahlah berusia lanjut namun masih memiliki semangat dan keberanian yang tinggi. Di situ dia berkata, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa Panji ini bersama dengan Rasulullah sebanyak tiga kali dan ini adalah yang keempat kali. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami ke puncak kematian, niscaya aku yakin bahwa orang-orang baik yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan.”

 

Ammar pun akhirnya terbunuh di tangan orang-orang yang masuk dalam golongan pembangkang. Baik perang Jamal maupun Shiffin adalah masa-masa dimana tipu daya musuh-musuh Islam berhasil mengoyak persatuan muslimin. Namun kematian Ammar mengingatkan sebagian dari mereka akan kebenaran, akan kesalahan dari sebuah pembangkangan.

 

Ammar pun dengan gembira mengejar syahid yang telah ditunggunya lama. Menyusul ayah, ibu dan sahabat-sahabatnya yang telah mendahului dirinya. Mengikuti Rasulullah menemui Tuhannya. Untuk memperoleh apa yang telah dijanjikan untuk dirinya, bahwa Surga telah menantinya.

 

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Ibnu Katsir. Al Bidayah wan Nihayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here