Home Sahabat Nabi Sa’ad Bin Abi Waqqash -Lelaki yang memadamkan api majusi-

Sa’ad Bin Abi Waqqash -Lelaki yang memadamkan api majusi-

64
0
SHARE
sa'ad bin abi waqqash

Umar ra. meminta pada sahabat yang menyertainya untuk bermusyawarah dalam situasi yang genting itu. Abdurrahman berkata, “Sungguh kami takut engkau mengalami kekalahan dan akan membuat umat Islam yang tersebar di penjuru bumi menjadi lemah. Maka aku mengusulkan agar engkau menunjuk seorang panglima dan engkau kembali ke Madinah.”

“Siapa menurutmu yang akan kita kirim sebagai panglima ke Irak?” tanya Umar. “Aku telah menemukannya.” jawab Abdurrahman. “Siapa dia?” tanya Umar kembali. “Dialah singa yang mencengkeram dengan kukunya. Sa’ad bin Malik Az-Zuhri.”

 

************

 

Dia adalah Sa’ad bin Malik Az-Zuhri atau yang lebih dikenal sebagai Sa’ad bin Abi Waqqash. Dia adalah salah satu orang yang pertama menyambut seruan Rasulullah untuk mengikuti ajaran Islam. Bahkan sebelum jumlah Muslim belum mencapai sepuluh orang, juga sebelum muslimin generasi pertama ini dengan diam-diam belajar di rumah Arqom bin Abi Arqom.

 

Saat itu Sa’ad adalah seorang pemuda yang masih cukup belia, masih sekitar tujuh belas tahun usianya, namun dia memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dibandingkan rekan seusianya. Dengan kematangan berpikirnya, ia telah memiliki ketidaksukaan pada kondisi masyarakatnya terutama dari sisi aqidah, yang dirasakan sudah sangat melenceng. Ia juga tidak menyukai hal-hal sia-sia yang biasa dilakukan oleh pemuda seusianya.

 

Sa’ad berasal dari golongan pemuka masyarakat yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Sa’ad adalah cucu dari Uhaib bin Manaf, Uhaib adalah paman dari Aminah ibunda Rasulullah. Sehingga Sa’ad terhitung sebagai paman Rasulullah secara silsilah, walaupun usianya lebih muda. Seringkali Rasulullah berkata saat Sa’ad ada di dekat beliau, “Ini adalah pamanku. Adakah diantara kalian yang memiliki paman seperti dia?”

 

Dia adalah seorang pemuda yang sangat dicintainya oleh orang tuanya dan juga sangat mencintai dan sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Dan ujian keimanan pertamanya pun akhirnya datang lewat ibunya…

 

Kabar keislaman Sa’ad akhirnya sampai ke telinga ibunya. Marah, itulah perasaan yang langsung mengisi hatinya. Segala cara dan upaya dilakukan ibunya untuk mengembalikan Sa’ad ke agama nenek moyangnya. Namun keimanan Sa’ad tetap kokoh laksana karang. Sang ibu pun akhirnya menggunakan sifat mulia anaknya yang sangat berbakti dan mencintai dirinya itu untuk bisa mempengaruhi Sa’ad meninggalkan Islam. Ibunya berkata, “Kamu harus meninggalkan agama baru itu atau aku akan berhenti makan dan minum sampai mati.”

 

“Jangan lakukan itu Ibu, sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku dengan alasan apapun.” jawab Sa’ad. Sang ibu pun melaksanakan sumpahnya. Sa’ad tetap membujuk ibunya untuk menghentikan aksinya, namun ibunya tetap bertahan hingga tubuhnya semakin melemah dan kondisinya sangat memprihatinkan. Seorang anak, apalagi yang sangat berbakti seperti Sa’ad pasti akan merasakan kesedihan melihatnya.

 

Namun Allah telah meneguhkan keimanan di hatinya. Ujian seperti itu tidak akan memalingkan dirinya dari Islam, tidak akan membuatnya menanggalkan keimanan yang telah mengisi jiwanya. Dia pun berkata pada ibunya, “Demi Allah, Ibu, seandainya Ibu memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku dengan alasan apapun. Sekarang terserah ibu mau makan atau tidak.” Akhirnya sang ibu mengalah.
Allah pun mengabadikan kejadian tersebut dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 15.

(وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّمَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ)

 

” Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

 

************

 

Sa’ad adalah seseorang yang memiliki dua senjata ampuh. Panah dan doa. Jika dia memanah, pasti mengenai sasarannya. Jika dia berdo’a, pasti dikabulkan. Suatu ketika Sa’ad melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Rasulullah. Lalu Rasulullah berdo’a, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkan doanya.”

 

Semenjak remaja, Sa’ad adalah seorang pemanah ulung. Waktu-waktu luangnya dia gunakan untuk berlatih dan terus berlatih, seakan-akan ada tugas yang akan dia emban terkait dengan itu.

 

Beberapa waktu setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, dibentuklah satuan-satuan militer sebagai salah satu bentuk pertahanan kedaulatan negara yang baru bertumbuh. Satuan militer ini diberikan tugas untuk melakukan ekspedisi militer keluar kota Madinah, untuk memberikan peringatan bagi musuh-musuh Islam bahwa negara itu memiliki kekuatan.

 

Bentrokan pertama antara pasukan muslimin dengan pasukan musyrikin Mekkah terjadi di Lembah Rabigh. Saat itu pasukan muslimin yang dipimpin oleh Ubaidah bin Al Harits bertemu dengan pasukan musyrikin yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Di saat itulah Sa’ad melepaskan anak panah yang pertama dalam sejarah perjuangan Islam di muka bumi ini. Itu salah satu yang dia banggakan dalam hidupnya.

 

Lalu beberapa tahun kemudian disaat perang Uhud kondisinya sedang berbalik, saat pasukan berkuda musyrikin yang dipimpin oleh Khalid bin Walid menyerang sisi belakang pasukan muslimin, Sa’ad termasuk salah satu orang yang berada sangat dekat dengan Rasulullah dan memberikan perlindungan pada beliau. Di saat itulah Rasulullah berkata pada Sa’ad, “Panahlah wahai Sa’ad, Ibu Bapakku menjadi jaminan.”

 

Hal itu merupakan hal kedua yang ia banggakan. Saat kemampuan yang dimiliki oleh dirinya menjadi bagian dari sejarah perjuangan menegakkan ajaran yang mulia ini.

 

************

 

Kekalahan pasukan yang dipimpin oleh Abu Ubaid Ats-Tsaqafi di pertempuran jembatan di dekat sungai Eufrat memberikan guncangan yang hebat bagi kaum muslimin. Keberanian Abu Ubaid dan pasukannya harus dibayar dengan terbunuhnya ribuan pasukan muslimin di pertempuran itu. Belum lagi kabar mengenai berkhianatnya beberapa kabilah di perbatasan antara Iraq dan jazirah Arab pada kaum muslimin.

 

Umar ra. segera memotivasi kaum muslimin untuk bergabung dengan pasukan yang akan bergerak menuju Iraq. Umah bahkan langsung memimpin pasukan muslimin bergerak menuju ke arah Persia. Beliau bertekad untuk memimpin secara langsung pasukan ini menyerang jantung kekuatan negeri penyembah api itu. Kepemimpinan di Madinah bahkan telah diserahkan pada Ali bin Abi Thalib. Di dalam pasukan itu terdapat banyak sahabat senior, termasuk Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

 

Umar ra. meminta pada sahabat yang menyertainya untuk bermusyawarah dalam situasi yang genting itu. Abdurrahman berkata, “Sungguh kami takut engkau mengalami kekalahan dan akan membuat umat Islam yang tersebar di penjuru bumi menjadi lemah. Maka aku mengusulkan agar engkau menunjuk seorang panglima dan engkau kembali ke Madinah.”

 

“Siapa menurutmu yang akan kita kirim sebagai panglima ke Irak?” tanya Umar. “Aku telah menemukannya.” jawab Abdurrahman. “Siapa dia?” tanya Umar kembali. “Dialah singa yang mencengkeram dengan kukunya. Sa’ad bin Malik Az-Zuhri.”

 

Umar dan para sahabat pun menyetujuinya dan mengirimkan pasukan muslimin yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash menuju Irak. Berangkatlah saad menuju Irak dengan kekuatan sekitar 4.000 orang. Sesampainya di wilayah Irak, pasukan Sa’ad bergabung dengan sisa pasukan Abu Ubaid yang berhasil menyelamatkan diri dengan komando Mutsanna bin Al Harits. Namun dia meninggal beberapa saat sebelum Sa’ad tiba akibat luka-luka yang terjadi di perang jembatan itu.

 

Sa’ad bergerak menuju Qadisiyah, sesuai dengan amanat Umar. Jumlah pasukan muslimin sudah mencapai sekitar 30.000 orang. Di sana telah menanti sebuah pasukan besar Persia yang berjumlah sekitar 120.000 orang dengan dipimpin oleh komandan-komandan terhebat di zamannya; Hormuzan, Jalinus, Mehran; dengan panglima terbaik yang dimiliki bangsa Persia, Rustum. Pasukan yang sangat besar dengan peralatan tempur terbaik di jamannya. Sementara pasukan muslimin hanya bersenjatakan pedang, tombak dan panah. Itu adalah pengumpulan pasukan terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Setelah kedua pasukan bertemu di Qadisiyah, peperangan tidaklah langsung dimulai. Namun diawali dengan kirim-mengirim urusan diantara keduanya. Sa’ad mengutus beberapa sahabat untuk mendakwahi Rustum seperti Nu’man bin Al Muqarrin, al-Mughirah bin Syu’bah dan Rib’iy bin Amir. Rustum setelah berdiskusi dengan para utusan itu sebenarnya sudah merasa tertarik dan berpikir bahwa berdamai adalah jalan terbaik yang bisa dilakukan. Namun para petinggi Persia yang ada menolak usulan itu dan memiliki untuk berperang.

 

Di hari berkecamuknya pertempuran besar itu, Sa’ad memberikan pidato selepas shalat Dzuhur dan menjelaskan tentang keutamaan berjihad di jalan Allah. Setelah itu dia bertakbir dan pertempuranpun terjadilah. Hari itu Sa’ad tidak bisa ikut bertempur dikarenakan sedang mengalami sakit, namun dia tetap memberi komando tertinggi dan menyerahkan kepemimpinan lapangan pada para komandan yang luar biasa.

 

Pertempuran terjadi selama empat hari. Dan di hari keempat, pasukan Persia sudah hancur moral barisannya, dengan pasukan yang terbunuh sebanyak 40.000 orang. Di pihak muslimin sendiri, ada 2.500 orang yang terbunuh. Dua komandan Persia pun terbunuh, Rustum dan Jalinus. Sisa dari pasukan mereka melarikan diri ke arah Mada’in.

 

Setalah itu Sa’ad memperkuat kedudukan muslimin di wilayah itu. Mereka mengutus utusan dan pasukan ke kota-kota di sekitar itu. Menawarkan tiga hal yang bisa dipilih, masuk Islam lalu diperlakukan sama seperti muslim yang lain, berdamai lalu membayar jizyah atau perang.

 

Sampai akhirnya perintah datang untuk mengejar pasukan Persia ke Mada’in.

 

Pasukan muslimin bergerak menuju ke arah Mada’in hingga akhirnya mencapai sisi Sungai Tigris yang sangat besar. Mada’in tepat berada di seberangnya. Istana Kisra yang oleh Rasulullah dikabarkan akan dikuasai umatnya, saat penggalian parit beberapa tahun sebelumnya sudah tampak di depan mata. Namun pasukan muslimin terhalang oleh rintangan yang tidaklah ringan.

 

Di situlah terjadi sebuah keajaiban peperangan yang belum pernah tercatat dalam sejarah sebelumnya. Sa’ad mengajak pasukannya untuk berdo’a kemudian berbondong-bondong memasuki sungai yang sedang bergelora itu dengan keyakinan bahwa Allah bersama mereka. Mereka berjalan di sungai bagaikan berjalan di darat saja.  Tak seorang pun hilang, pun kehilangan barangnya dalam penyebrangan yang luar biasa itu.

 

Berjalanlah mereka menuju Mada’in, ibukota kekaisaran Persia. Mereka memasukinya tanpa ada perlawanan yang berarti. Terbuktilah ucapan Rasulullah, “Umatku akan menguasainya.”

 

Qadisiyah dan Mada’in adalah gerbang, yang saat terbuka maka terbukalah suatu negeri yang hebat, yang kelak akan melahirkan banyak bintang cemerlang dalam sejarah peradaban Islam. Dan saat itu pula lah api kaum Majusi berangsur-angsur padam untuk selama-lamanya.

 

************

 

Di saat masa-masa fitnah besar melanda kaum Muslimin pasca terbunuhnya Utsman lalu dilanjutkan dengan perang Jamal dan terakhir perang Shiffin. Sa’ad termasuk orang yang memilih untuk menjauhi urusan terkait dengan itu. Beliau memilih untuk menggembalakan kambing diluar kota Madinah.

 

Pada saat itu banyak orang yang mendesaknya untuk ikut campur, karena hanya Sa’ad dan Ali, dua tokoh yang tersisa dari anggota majelis syuro yang ditunjuk Umar untuk memilih pengganti dirinya. Utsman telah terbunuh di masa awal huru-hara. Abdurrahman meninggal beberapa tahun sebelumnya. Thalhah dan Zubair terbunuh saat meninggalkan pertempuran di Shiffin. Sedangkan Ali adalah salah satu pihak yang sedang bertikai. Sa’ad lah yang dianggap oleh banyak pihak sebagai orang yang paling berhak menjabat sebagai Khalifah.

 

Saat anaknya, Umar bin Sa’ad, datang untuk membujuknya hadir dalam perundingan, Sa’ad berkata, “Aku tidak akan menghadirinya! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah! Sebaik-baik manusia pada saat itu adalah yang tersembunyi lagi bertakwa.’ Demi Allah aku tidak mau terlibat urusan itu selama-lamanya.”

 

Sa’ad menepati janjinya itu. Sampai akhirnya suatu hari ajal sudah terasa sangat dekat. Anaknya menangis melihat kondisinya, lalu Sa’ad berkata, “Apa yang membuatmu menangis? Allah tidak akan menghukum diriku. Aku akan menjadi penduduk surga.” Lalu ia meminta keluarganya mengeluarkan sehelai kain tua yang sudah usang, lalu dia berkata, “Kafanilah aku dengan kain ini, karena berperang dengan orang-orang musyrik dengannya di Perang Badar. Aku ingin bertemu Allah dengannya.”

 

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

 

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Ibnu Katsir. Al Bidayah wan Nihayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here