Home Sahabat Nabi Bilal bin Rabah -Sang Muadzin Rasulullah-

Bilal bin Rabah -Sang Muadzin Rasulullah-

72
0
SHARE
bilal bin rabah

Kecamuknya perang Badar semakin menghebat. Dentingan pedang yang saling beradu bersahutan tanpa henti. Desingan anak panah yang terlontar dari busurnya menambah kengerian di hari itu. Tak jauh dari posisi Bilal tampak Umayyah bin Khalaf sedang mengiba meminta perlindungan pada Abdurrahman bin Auf. Melihat itu Bilal berteriak, “Itu dia gembong kekafiran, Umayyah bin Khalaf. Aku tak akan selamat jika dia selamat.”

************
Namanya adalah Bilal bin Rabah. Dia adalah seorang budak keturunan Habsyi yang dimiliki oleh Bani Jumah, dia terlahir sebagai budak karena orang tuanya pun berstatus sebagai budak. Bilal lahir dan besar di Mekkah dan sangat mencintai kota itu karena kenangan indahnya di masa-masa kecilnya dan kenangan manisnya di masa Islamnya.

Bilal mulai mendengar tentang Muhammad saat orang-orang Quraisy mulai ribut membicarakan dirinya. Tak terlewat juga Umayyah bin Khalaf, pemuka Bani Jumah, kabilah yang menguasai kemerdekaan dirinya.

Pembicaraan orang-orang tentang Muhammad ini sungguh menarik, karena sangat kontradiktif. Mereka berbicara dengan nada kebencian karena Muhammad dianggap mau menyelewengkan masyarakat dari ajaran-ajaran nenek moyangnya, ajaran yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mereka juga khawatir jika nanti agama baru ini akan menggerus kemuliaan Quraisy yang selama ini menjadi sentral peribadatan di tanah Arab. Namun mereka pun mengakui kemuliaan, kejujuran dan ketinggian akhlaq Muhammad. Mereka percaya bahwa Muhammad tidak pernah berdusta, namun mereka harus menyebutnya pendusta untuk menghindari lebih banyak orang yang percaya pada ajaran Islam yang dibawa olehnya.

Dari berbagai informasi yang dia terima, dia menyimpulkan bahwa agama baru yang dibawa oleh Muhammad ini adalah agama yang benar, ajaran yang seharusnya ditegakkan, walaupun itu akan sulit dan penuh pengorbanan. Tak butuh waktu lama bagi Bilal untuk menyatakan keislamannya setelah Allah menyelusupkan hidayah ke dalam hatinya. Bilal termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam.

Kabar mengenai Islamnya Bilal bin Rabah, seorang budak Bani Jumah, menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat. Umayyah bin Khalaf merasa bagaikan dipermalukan karena budaknya, yang kemerdekaannya ada di tangannya, memilih untuk mengikuti ajaran yang dia benci. Memilih untuk menjadi pengikut orang yang dia musuhi.

Umayyah bertekad untuk mencabut keimanan dari diri Bilal dengan cara apapun, untuk menjadi contoh bagi segenap kaum budak dan majikannya. Namun keimanan yang ingin dicabutnya itu telah berakar kuat dalam waktu yang sangat singkat.

Bilal, dan rekan-rekan muslimin dari golongan budak dan orang-orang lemah, mengalami berbagai jenis intimidasi hingga tak jarang dilanjutkan dengan penyiksaan karena mereka tidaklah merdeka dan memiliki pelindung. Tidak seperti kaum muslimin yang berasal dari golongan yang memiliki kedudukan di masyarakatnya, yang lebih terlindung keselamatan dan kehormatannya.

Mulailah Bilal, Yasir, Summayah, Ammar, Khabbab dan beberapa sahabat lainnya mengalami hari-hari panjang penuh dengan siksaan. Suatu hari-hari yang menyejarah, dimana keteguhan hati mereka terpatri kuat dalam lembaran sejarah.

Umayyah dan beberapa rekannya memaksa Bilal untuk berbaring di panasnya pasir Mekkah sepanjang hari tanpa baju dan kain panjang untuk melindungi  kulitnya dari sengatan panas. Terkadang mereka memakaikan baju besi yang akan menjadi sangat panas saat dijemur di terik matahari.

Mereka terus memaksa agar Bilal memuji Lata dan Uzza serta mencaci Rasulullah. Namun yang keluar dari mulut Bilal hanyalah, “Ahad, Ahad.”. Merasa siksaannya kurang berat, mereka mencambuk tubuhnya atau menindih tubuhny dengan batu sambil tetap dibaringkan di hamparan pasir panas Mekkah. Namun yang terucap hanyalah, “Ahad, Ahad.”. Saat sore tiba, mereka mengikat leher Bilal dengan tambang kasar lalu memberikannya pada anak-anak dan orang bodoh diantara mereka yang kemudian menarik-narik Bilal sesuka hati mereka sambil terkadang melemparinya dengan batu.

Berhari-hari mereka melakukan tindakan serupa itu, sambil terus memintanya memuji Tuhan mereka. “Pujilah Lata dan Uzza, niscaya kami akan melepaskanmu.” kata orang-orang yang sedang menyiksa dirinya. “Lidahku tak bisa mengatakannya.” ujar Bilal. Orang-orang Bani Jumah termasuk Umayyah mulai putus asa untuk memalingkan kembali Bilal pada kepercayaan lamanya. Sehingga siksaan yang diberikan semakin menjadi-jadi.

Sampai suatu hari saat mereka sedang menyiksa Bilal dengan begitu kerasnya, Abu Bakar mendatangi mereka dan berkata pada Umayyah, “Apakah kalian akan membunuh seseorang karena mengucapkan Tuhannya adalah Allah? Berilah harga yang lebih dari harganya dan bebaskanlah dia.”

Akhirnya Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar dengan harga sembilan uqiyah emas. “Demi Lata dan Uzza, aku akan melepasnya seandainya kau tidak akan membelinya kecuali dengan harga satu uqiyah emas.” ucap Umayyah pada Abu Bakar sambil menyombongkan diri. Abu Bakar yang menaruh penghormatan sangat tinggi pada Bilal pun menjawab, “Demi Allah, aku akan membelinya seandainya kau tidak akan menjualnya kecuali dengan harga seratus uqiyah emas.”

************

Pasukan muslimin mulai bergerak keluar kota Madinah, menyongsong salah satu dari dua yang telah dijanjikan Allah, kafilah dagang Abu Sufyan atau pasukan Quraisy yang berisi permata hati Mekkah; para bangsawan yang begitu keras memusuhi Islam. Dan ternyata yang diberikan Allah adalah pasukan Quraisy.

Dzikir bergema sepanjang jalan yang mereka lalui. “Ahad, Ahad, Ahad….!” menggemuruh meningkatkan semangat kaum muslimin. Ucapan yang dulu keluar dalam kesunyian dari seorang budak Habsyi yang teraniaya, kini menjadi pekik penyemangat pasukan muslimin yang sedang menyongsong peperangan pertamanya dalam menghancurkan kemusyrikan. Akhirnya kedua pasukan bertemu dan pertempuran pun pecah.

Kecamuknya perang Badar semakin menghebat. Dentingan pedang yang saling beradu bersahutan tanpa henti. Desingan anak panah yang terlontar dari busurnya menambah kengerian di hari itu. Tak jauh dari posisi Bilal tampak Umayyah bin Khalaf sedang mengiba meminta perlindungan pada Abdurrahman bin Auf. Melihat itu Bilal berteriak, “Itu dia gembong kekafiran, Umayyah bin Khalaf. Aku tak akan selamat jika dia selamat.”

Abdurrahman bin Auf pada awalnya telah menyetujui akan melindungi Umayyah bin Khalaf dan menjadikannya tawanan. Namun Bilal kembali berkata, “Perang belumlah usai, pedangnya masih berlumuran darah muslimin. Aku tak akan selamat, selama dia selamat.”. Tak lama beberapa orang merangsek mendekati Umayyah lalu membunuhnya. Salah satu gembong kekafiran akhirnya mati bersama dengan rekan-rekannya; Utbah bin Rabiah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith dan lainnya.

Kesombongan-kesombongan jahiliah berguguran satu per satu dalam peperangan itu. Kesombongan yang dahulu dengan congkaknya menganiaya orang-orang Islam di Makkah.

************

Perintah untuk hijrah ke Yatsrib telah diturunkan. Bilal langsung berangkat bersama sahabat lainnya mendatangi kota yang kelak akan menjadi kota Madinah. Para sahabat hijrah berangsur-angsur ke sana selama beberapa saat sampai akhirnya Rasulullah mendapatkan perintah untuk hijrah pula ke sana.

Setelah Rasulullah menetap di Madinah, beliau mensyariatkan adzan untuk memanggil orang-orang untuk melaksanakan shalat. Rasulullah menunjuk Bilal sebagai muadzin bagi seluruh muslimin di Madinah. Suatu tugas yang sangat diharapkan oleh segenap kaum muslimin, termasuk mereka berasal dari golongan berkedudukan mulia, namun Rasulullah menunjuk Bilal bin Rabah sebagai bentuk pengakuan beliau atas keutamaan Bilal.

Delapan tahun sudah berlalu semenjak hijrah diperintahkan, saat itu Rasulullah beserta ribuan kaum muslimin dari berbagai kabilah berjalan mendekati kota Mekkah. Suatu pasukan penakluk yang tak akan bisa dilawan oleh pembesar-pembesar Mekkah. Rasulullah dan kaum muslimin memasuki kota Mekkah dengan derap langkah kemenangan. Meninggalkan musuh-musuh Islam dalam kondisi tercengang seraya bertanya-tanya dalam benaknya, “Inikah Muhammad dan pengikutnya yang beberapa tahun lalu kami usir, hinakan juga kami perangi?”

Sesampainya di Ka’bah, Rasulullah memasukinya dengan ditemani oleh Bilal, Usamah bin Zaid dan Utsman bin Thalhah, sang pemegang kunci Ka’bah. Mereka mulai membersihkan Ka’bah dari ratusan berhala yang memenuhinya, di dalam maupun diluarnya. Saat masuk waktu shalat, Rasulullah memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan adzan di sana. Kumandang adzan akhirnya bergema di Mekkah Al Mukaromah.

Orang-orang yang di hatinya masih memusuhi Islam semakin tercengang karena Bilal, yang dahulu pernah mereka siksa sekehendak hati mereka, saat ini berdiri di atas Ka’bah memanggil segenap kaum muslimin untuk melaksanakan shalat.

************

Bilal terus menyertai Rasulullah dan menjadi muadzin, hingga akhirnya Rasulullah pun wafat. Setelah beliau wafat, sebelum dimakamkan, masuklah waktu shalat. Bilal pun mengumandangkan adzan, namun terhenti saat mengucapkan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Nafasnya tercekat oleh kesedihan yang menyeruak, air matanya tak terbendung mengingat Rasulullah.

Akhirnya Bilal memohon izin pada Khalifah Rasulullah, Abu Bakar, untuk pergi meninggalkan Madinah. Bergabung dengan pasukan yang bergerak ke arah Syam, untuk berjihad menegakkan Islam. Namun Abu Bakar menolaknya dan ingin Bilal tetap menjadi muadzin di Madinah. Lalu Bilal berkata, “Jika engkau memerdekakan diriku untuk dirimu maka tahanlah aku. Namun jika. Engkau memerdekakan diriku karena Allah, maka biarlah aku untuk siapa engkau memerdekakan diriku.”

Bilal terus menerus berjuang menegakkan kalimat tauhid di negeri Syam, sesuai harapannya. Dan juga tidak pernah menjadi muadzin sepeninggal Rasulullah. Sampai akhirnya suatu hari Khalifah Umar mendatangi Damaskus, dengan membawa kerinduan pada Bilal, sang muadzin Rasulullah. Lalu Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sekali lagi. Saat adzan dikumandangkan, seluruh muslimin yang mendengarnya terisak haru mengingat masa-masa indah dimana Rasulullah masih ada bersama mereka.

Setelah itu Bilal tidak pernah mengumandangkan lagi adzan bagi kaum muslimin, seakan-akan suara adzannya hanyalah untuk kekasihnya, Rasulullah SAW. Dia terus berjuang hingga akhirnya tibalah waktu bagi dirinya untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya, bertemu dengan kekasihnya,  bertemu dengan Rab-nya.

(Lucky Hilman Ismuwardhana)

Referensi:

Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here