Home Techno Membangun Kultur Kualitas

Membangun Kultur Kualitas

96
0
SHARE
hendry ford quote on quality

Dalam tulisan ini penulis ingin berbagi coretan ringan mengenai kualitas dan rahasia mencapai kondisi nihil keluhan pelanggan. Berkecimpung di industri bearing (klaher, bantalan) telah sedikit banyak memberikan pencerahan makna kualitas produk. Bagi perusahaan pembuat bearing, isu utama dan juga nilai jual dari  produk ada pada kualitas. Hal tersebut dipengaruhi tuntutan aplikasi produk yang banyak dipakai di posisi-posisi yang vital seperti stir mobil, poros roda, mesin jet dan roket, alat sentrifugal pemurnian uranium, alat operasi medis, motor reaktor nuklir dan sebagainya. Pada alat-alat ini, kerusakan (malfunction) adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh terjadi karena taruhannya adalah nyawa manusia serta kerugian materi yang sangat besar.

Apa itu Kualitas?

Saat ini kualitas produk telah menjadi isu yang sangat merakyat terutama di negara-negara maju. Mekanisme pasar telah menjadikan pelanggan sebagai hakim dalam menentukan kualitas suatu barang. Definisi kualitas juga telah berubah dari sekedar memenuhi semua persyaratan teknis dan fungsi menjadi plus memenuhi keinginan pemakai. Terutama dalam hal yang berhubungan dengan keamanan, persyaratan kualitas ini dari tahun ke tahun makin ketat sampai pada level yang belum pernah dibayangkan dunia manufaktur dua atau tiga dekade sebelumnya.

Sepanjang tahun 2015-2016,  dunia otomotif di Amerika dan dunia dihangatkan dengan berita recall jutaan unit mobil dan jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah sampai puluhan juta unit (1). Masalahnya ada pada kantung udara (airbag) yang gagal berfungsi sempurna saat tabrakan. Dari hasil penyelidikan awal dicurigai 5 orang tewas terkait masalah ini. Walaupun masih dalam taraf penyelidikan  pabrikan besar tidak mau mempertaruhkan kredibilitas jika sampai ada korban jiwa lebih banyak lagi, sebab itu mereka memutuskan untuk menarik semua unit yang memakai airbag jenis yang sama. Jumlahnya menjadi sangat banyak sebab 1 di antara 7 mobil penumpang di Amerika kabarnya memakai airbag yang bermasalah itu. Hal ini tentu merupakan pukulan yang sangat berat bagi sang produsen airbag bahkan boleh jadi mengakibatkan perusahaan tersebut akan kolaps. Tetapi apa boleh buat, demikianlah cara industri mobil menjaga kepercayaan pemakainya.

Industri otomotif, kereta dan pesawat terbang dikenal sebagai industri produk massal dengan standar kualitas tertinggi. Sebagai gambaran, kereta peluru Shinkansen milik Jepang selama 50 tahun lebih beroperasi, belum memiliki catatan malfunction yang fatal (2). Bagi produsen kereta ini, 1 kali malfunction sudah merupakan aib yang luar biasa. Karena itu mereka memiliki standar kualitas yang sangat tinggi. Tentu saja, semua komponen-komponen yang dipakai di Shinkansen termasuk bearing harus mampu memenuhi standar ini.

Standar jumlah produk cacat yang ditolerir industri selama bertahun-tahun juga telah bergeser. Saat ini yang menjadi target bukan lagi tingkat produk cacat dengan orde beberapa ppm tetapi “zero customer claim”, artinya tidak ada keluhan pelanggan. Filosofinya, 1 produk cacat dalam sejuta produk dari sisi produsen adalah tingkat kegagalan 1 ppm, tapi dari sisi sang pemakai yang hanya membeli satu produk tingkat cacatnya adalah 100 persen.

Untuk membantu perusahaan menjaga kualitas produksinya, ada banyak standar internasional yang lazim diterapkan. Penerapan standar-standar ini telah terbukti cukup ampuh dalam meningkatkan penjagaan kualitas secara umum.

Standar yang paling banyak diterapkan adalah ISO9001 dan ISO/TS16949 untuk industri otomotif. Untuk menjaga proses produksi berjalan maksimal ada berbagai macam metode penjagaan kualitas seperti Total Quality Management (TQM) atau Six Sigma dengan masing-masing karakternya yang unik.

Di negara kita, bermacam standar dan metode di atas telah mulai banyak diterapkan sebagai konsekuensi wajar dari tuntutan pasar terlebih lagi untuk jenis produk yang diekspor ke luar negeri. Akan tetapi membangun kualitas tidak selesai dengan mendapatkan sertifikasi ISO atau dengan menerapkan metode Six Sigma.

Customer Zero Claim

Sebagian penanggung jawab kualitas produksi di perusahaan merasa puas jika mereka mendapatkan bermacam sertifikasi. Kenyataannya, dari 5 komponen yang mempengaruhi kualitas produksi, atau yang biasa disebut 5M (man, machine, material, measuremet, method), yang paling mempengaruhi kualitas produksi adalah kemampuan dan kesadaran setiap orang yang terlibat dalam proses produksi. Karena itu kita menemukan betapa banyak perusahaan yang sudah berhasil mendapatkan sertifikasi kualitas dari badan penilai internasional tetap tidak mampu mencapai kondisi “zero claim”.

Berdasarkan pengalaman penulis berkecimpung di bidang peningkatan kualitas produk, rahasia kualitas dari sisi sumber daya manusia bisa disimpulkan sebagai berikut:

  1. Setiap karyawan mencintai pekerjaannya dan mereka merasa seolah-olah pekerjaannya itulah yang paling penting di dunia. Karena itu mereka bekerja sebaik-baiknya dan se-profesional mungkin.
  2. Setiap karyawan ingin meringankan beban orang lain sehingga tidak merepotkan mereka dengan produk yang cacat. Dalam teori TQM ini disebut dengan istilah “next process is my customer”, process produksi sesudah saya adalah pelanggan saya karena itu saya tidak boleh memberi mereka produk cacat.
  3. Keinginan melahirkan produk berkualitas timbul dari dalam diri setiap karyawan. Sehingga sikap selalu memberikan kualitas terbaik telah menjadi kultur yang dijunjung dengan penuh rasa bangga dan tanggung jawab.

Bila kita telah mampu mencapai tiga kondisi di atas berarti kultur dan pola pikir mengutamakan kualitas telah melekat pada diri kita. Target “customer zero claim” akan lebih mudah dan lebih cepat tercapai.

Referensi:

(1)  http://icsw.nhtsa.gov/safercar/rs/takata/

(2) http://english.jr-central.co.jp/about/safety.html

Penulis: Azhari S

http://www.infometrik.com/penulis/?user=Azhari-Sastranegara

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here