Home Pernikahan Durhaka Suami Kepada Istri

Durhaka Suami Kepada Istri

102
0
SHARE
durhaka istri kepada suami

DURHAKA SUAMI KEPADA ISTRI

Tagline buku-nya adalah mengintrospeksi diri agar selalu disayang istri.

Penerbit yang membawa buku ini diterjemahkan ke Indonesia hari ini adalah Kiswah Media. Sebuah penerbit dari Solo. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dan Abdullah bin Al-Ju’aitsan.

Buku ini ada komplemennya, dengan judul yang mirip, Durhaka Istri Kepada Suami. Mudah-mudahan kita ada waktu untuk membuat review buku-nya.

Bagi saya, reviewer, buku ini secara gambling sukses memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tergabung dalam sebuah niche seputar “hubungan suami dengan istri”. Niche ini adalah sebuah kategori kecil dalam besarnya semesta “Pernikahan” secara luas. Di mana satu contoh niche lain adalah “Parenting”.

Sekedar kilas balik (flash back), sekitar tahun 2011 lalu saya pernah mengikuti sebuah SPN. Apa itu? Yakni, Sekolah Pra Nikah. Sepertinya menarik, nih. Singkat cerita, saya mendaftar lalu mengikuti hampir seluruh proses kursusnya. Saya lupa ada sekitar 7-8 materi kalau tidak salah. Yang disampaikan sekali dalam setiap akhir pekan. Poin utama yang saya rasakan adalah, saya masih tidak paham seperti apa itu pernikahan. Bahkan konsep pernikahan terasa semakin membingungkan.

Untungnya ada buku yang akan kita review ini.

Sesuai judulnya, memang ada beberapa kesalahan atau “kedurhakaan” yang dilakukan oleh seorang suami. Berikut adalah beberapa di antaranya:

  • Terkait hubungan dengan orang tua
    • Lalai berbakti kepada orang tua setelah menikah
    • Kurang serius dalam mengharmoniskan antara istri dan orang tua
  • Terkait agama
    • Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya
    • Kurang perhatian terhadap doa yang dituntunkan ketika menggauli istri
  • Terkait ekonomi
    • Memakan harta istri secara batil
    • Bersikap pelit terhadap istri
  • Terkait dengan anak-anak
    • Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri

SUAMI PEMALAS

Salah satu tipe suami yang berperangai buruk adalah suami yang hanya diam, apatis, dan rela terhadap kemiskinan dan taraf hidupnya yang rendah. Hatinya telah dirasuki perasaan puas terhadap pekerjaan yang hanya cukup untuk membasahi kerongkongannya dan kerongkongan anak istrinya agar mereka tidak mati kelaparan.

Sesungguhnya, selalu ada ‘kan pintu-pintu kemajuan bagi mereka yang mau berusaha mengubah nasibnya? Akan tetapi, sang suami takut untuk mencobanya dan malas. Ia lebih memilih puas terhadap pekerjaannya sekarang yang menghasilkan uang tidak seberapa. Suami yang pemalas berarti durhaka terhadap istri dan anak-anak yang menjadi tanggungannya.

SUAMI YANG BAKHIL

Bakhil artinya pelit; kikir. Suami yang bakhil terhadap istri (dan anak-anak) berpotensi memberikan malapetaka dan marabahaya kepada anggota keluarganya. Begitu berbahayanya sehingga keburukan yang akan didapatkan malah berlipat-lipat daripada simpanan –harta—yang telah/akan ia dapatkan. Padahal kita ketahui bersama bahwa harta yang tidak berputar itu bagaikan tidak ada nilainya sama sekali.

Penulis buku ini mengibaratkan kebakhilan dengan keledai yang digunakan untuk mengangkut anggur. Apapun benda berharga yang dibawa oleh keledai tersebut; apakah itu emas ataukah sekedar anggur, sang keledai tidak dapat menikmatinya. Ia hanya membawanya, lelah memikulnya, namun tidak ikut menikmatinya. Bahkan sang bakhil hanya mengalihkan harta kekayaannya (lewat waris, misalnya) kepada orang lain tanpa mendapatkan ucapan terima kasih atau upah atas upaya tersebut.

Namun sayangnya, harta kekayaan tersebut tidak tertinggal begitu saja. Karena si bakhil akan dihisab terkait harta tersebut di hari kiamat nanti. Sudah di dunia tidak menikmati hartanya, ternyata di akhirat malah ditanya mengenai untuk apa harta tersebut dia gunakan. Ruginya jadi dua kali. Inilah yang disebut dengan kerugian yang benar-benar nyata.

Oleh orang-orang Barat beragama Kristen, sang bakhil ini diibaratkan dengan babi. Yakni sejenis hewan yang tidak dapat diambil manfaatnya barang sedikit pun. Tidak ada susunya untuk diminum, tidak ada telurnya untuk dimakan, tidak ada bulu yang bisa diambil. Daging, lemak, dan kulitnya baru bermanfaat manakala babi tersebut sudah dimatikan. Jadi, fungsi sang bakhil itu sama dengan fungsi babi. Keduanya baru mendatangkan manfaat setelah kematiannya.

Ada dua ayat Al Qur’an mengenai kebakhilan yang harus dijauhi oleh para suami:

  • Ath-Thaghabun (64): 16
  • Ali ‘Imran (3): 180

SUAMI YANG SUKA MENGUNGKIT PEMBERIAN

Mengungkit-ungkit pemberian adalah tindakan yang paling menyakitkan dan ia akan menghilangkan pahala dan kebaikan seseorang. Tidak berbuat baik itu lebih baik daripada berbuat baik tetapi diiringi dengan mengungkit-ungkit. Sikap seperti itu sangat berat dirasakan oleh hati. Meski semulia apapun hati seseorang, ia tidak akan kuat menahan hinaan seperti ini.

Orang-orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian itu akan membawa beban kehinaan yang besar. Di samping itu, akan merusak kebaikan itu sendiri. Belum lagi potensi permusuhan di antara keduanya. Orang yang diberi akan menyimpulkan bahwa pemberian yang dahulu itu karena ada maksud tertentu; bukan karena kedermawanan semata.

Manusia hendaknya meminimalkan diri dari meminta kepada orang lain, supaya manusia bisa menjaga kehormatan dirinya. Bila ia mengalami situasi yang memaksanya harus meminta kepada orang lain hendaknya ia memilih untuk meminta kepada orang yang dermawan dan ia hendaknya berusaha keras untuk membalas kebaikannya.

  • Suami kadang mengungkapkan berbagai materi yang pernah ia berikan kepada istri/anak-anaknya, seperti rumah yang mewah, dan harta yang berlimpah untuk keluarganya.
  • Mengingatkan istri bahwa jarang ada suami yang mampu melakukan sesuatu untuk istri mereka seperti yang telah ia lakukan.

KELUARGA ADALAH AMANAH LAKI-LAKI

Kecintaan dan prioritas kita, janganlah pada pekerjaan atau perusahaan kita. Keluarga adalah yang utama karena di sanalah tanggung jawab kita. Sehingga pekerjaan adalah supporting system untuk kita dapat memelihara keluarga. Kehormatan kita bukan diukur dari pekerjaan maupun perusahaan kita, melainkan dari kualitas hidup istri, anak-anak, dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita sebagai laki-laki.

Padahal menikah tidak sekedar mendapatkan istri, memperoleh anak-anak, apalagi memiliki keluarga. Melainkan kita harus siap untuk mengurus mereka semua yang termasuk ke dalam tanggung jawab kita. Jadi semua urusan keluarga secara umum (di mana urusan rumah tangga adalah sebahagian di antara), sesungguhnya adalah domain laki-laki. Dalam praktiknya, bisa saja suami berbagi tugas dengan istri. Ayah berbagi tugas dengan para anak-anak. Namun yang berperan sebagai pemimpin dan bertanggung jawab atas itu semua adalah para pria (suami/ayah) tersebut. Tidak mudah memang menjadi pemimpin; kita mempertanggungjawabkan apa-apa yang tidak kita kerjakan secara langsung.

Demikian review kali ini.

Semoga segera datang kesempatan membahas buku “Durhaka Istri Kepada Suami”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here