Home Sahabat Nabi Amr bin Jamuh – Pengejar Surga Walau Tertatih

Amr bin Jamuh – Pengejar Surga Walau Tertatih

73
0
SHARE
amr bin jamuh

Setelah Rasulullah menunjukkan keridhaannya atas keikutsertaan Amr, dia lalu menghadapkan wajahnya ke kiblat seraya berdoa, “Ya Allah, berilah aku kesyahidan. Janganlah engkau biarkan aku kembali dengan tangan hampa.”

************

Amr bin Jamuh adalah seorang pembesar Yatsrib di masa jahiliah. Dia berasal dari Bani Salamah. Kedudukannya terpandang di masyarakat Yatsrib karena kedermawanannya juga karena kebijaksanaannya. Namun di saat cahaya kebenaran Islam memasuki Yatsrib, dia belum bergegas menghampirinya, bahkan sedikit terlambat.

Saat Mush’ab bin Umair diutus oleh Rasulullah ke Yatsrib untuk berdakwah, Amr sudah berumur cukup tua, sekitar enam puluhan tahun. Sedikit demi sedikit masyarakat Yatsrib mengikuti ajaran Islam hingga dalam waktu yang relatif singkat berbagai kabilah, berbagai keluarga telah bergabung dalam barisan orang-orang mukmin. Termasuk istri dan anak-anak Amr. Namun tidak demikian dengan Amr, dia masih setia dengan berhalanya.

Sama seperti pembesar kaum musyrikin lainnya di masa jahiliah, Amr memuja sebuah berhala yang bernama Manat yang terbuat dari sebatang kayu yang mahal harganya. Berhala ini diberikan penghormatan yang tinggi di dalam rumahnya, diminta berkahnya dan diharapkan pertolongannya.

Anak-anak Amr; Mu’adz, Mu’awidz, Khallad dan Abu Aiman; menyadari akan ketergantungan ayahnya pada berhala ini. Padahal berhala itu tidaklah memberikan manfaat apapun bagi mereka, juga tidak mampu menimpakan keburukan apapun. Bersama dengan temannya, Mu’adz bin Jabal, mereka berencana untuk melakukan tindakan yang diharapkan bisa memutus kecintaan ayahnya pada sepotong berhala bernama Manat itu.

Di malam hari, mereka mengendap-endap masuk ke dalam rumah lalu mengambil Manat dari tempatnya kemudian mencampakkannya di lubang pembuangan sampah di lingkungan Bani Salamah. Keesokan harinya, Amr mendapati Manat tidak ada di tempatnya saat dia akan berdoa. Dia lalu mencarinya hingga menemukannya teronggok di lobang sampah. Dia berkata, “Celaka kalian! Siapa yang melakukan hal ini pada tuhanku?”

Setelah itu berhala itu dibersihkan, diberikan minyak wangi yang mahal lalu ditempatkan di tempatnya semula. Namun di malam itu anak-anaknya melakukan hal yang serupa lagi. Keesokan harinya pun Amr melakukan hal sama.

Setelah hal itu terjadi beberapa kali, Amr merasa sangat jengkel dan mulai merasa bimbang akan posisi Manat di hidupnya. Dia kemudian mendatangi Manat lalu mengalungkan sebilah pedang pada pundaknya. Dia lalu berkata, “Wahai Manat, demi Allah, aku tidak mengetahui siapa yang melakukan hal itu kepadamu. Jika ada kebaikan pada dirimu, maka belalah dirimu dari keburukan itu, ini pedangku bersamamu.” Amr pun malam itu tidur.

Setelah yakin bahwa ayahnya sudah tertidur, anak-anaknya kembali melakukan hal yang serupa, mereka mengambil pedang yang tergantung di pundak Manat lalu membawanya keluar rumah. Mereka lalu mengikat berhala itu pada bangkai anjing dan melemparkannya pada tempat sampah yang sama.

Keesokan harinya, Amr mencari Manat yang sudah tidak berada di tempatnya. Dia menemukannya tersungkur di tempat sampah bersama bangkai anjing, pedang yang dia pikir seharusnya bisa digunakan untuk membela diri sudah tidak berada di tempatnya. Namun kali ini dia meninggalkan patung itu di sana. Dia pun berkata, “Demi Allah, kalau kamu adalah tuhan yang benar, niscaya kamu tidak akan pernah terikat dengan tali bersama bangkai anjing di dalam lubang ini.”

Setelah itu anak-anaknya serta rekan-rekannya di Yatsrib mengajak Amr untuk berpikir lebih jernih melihat kesesatan yang nyata berada di sekitar mereka dan menyeru pada kebenaran yang sudah dibawa oleh Rasulullah. Tak lama kemudian, Amr menyatakan keislamannya.

************

Amr bin Jamuh menjadi seorang muslim yang taat dan bersemangat, dia ingin mengejar ketertinggalannya dalam Islam. Sampai suatu hari Rasulullah menyampaikan perintah untuk berjihad pada sebuah peperangan yang dikenal sebagai perang Uhud. Rasulullah bersabda pada segenap kaum muslimin, “Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Kaum Muslimin menyambut perintah itu dengan bersemangat. Hiruk pikuk sangat terasa di seluruh sisi Madinah. Semuanya mempersiapkan dirinya, mengeluarkan peralatan perangnya serta mengemas perbekalannya. Termasuk anak-anak Amr bin Jamuh. Keempat anaknya terlihat bagai singa yang siap menerkam musuh-musuhnya. Hal ini membangkitkan semangat juang Amr, dia tidak ingin tertinggal dalam upaya pengejaran pahala yang luar biasa ini.

Namun keempat anaknya berupaya menahan Amr supaya ayahnya tidak perlu ikut pada peperangan itu. Karena Amr sudah berusia lanjut juga dia memiliki sedikit kekurangan, salah satu kakinya pincang. Mereka menyampaikan bahwa Allah telah memberikan kelonggaran untuk orang-orang yang memiliki halangan untuk tidak turut serta dalam rombongan jihad.

Amr tidak rela menerima penjelasan dari anak-anaknya. Semangatnya sudah begitu menggebu untuk turut serta menyambut panggilan jihad. Akhirnya dia menghadap pada Rasulullah. Dia mengadu pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, anak-anakku melarang aku mengejar kebaikan. Mereka keberatan jika aku ikut berperang karena aku sudah tua dan pincang. Sungguh, aku ingin menjejakkan kakiku yang pincang ini di Surga.”

Rasulullah pun bersabda pada Amr, “Untukmu Amr, sesungguhnya Allah telah memaafkanmu, tidak ada kewajiban untuk berjihad bagimu.” Lalu beliau melanjutkan sabdanya pada anak-anak Amr, “Tidak ada alasan bagi kalian untuk menghalanginya. Karena mungkin Allah akan mengaruniakan kesyahidan untuk dirinya. Karena itu, biarkanlah dia.”

Setelah Rasulullah menunjukkan keridhaannya atas keikutsertaan Amr, dia lalu menghadapkan wajahnya ke kiblat seraya berdoa, “Ya Allah, berilah aku kesyahidan. Janganlah engkau biarkan aku kembali dengan tangan hampa.”

Berangkatlah Amr bersama para pejuang menuju Uhud. Disana pecah sebuah pertempuran yang besar antara pasukan muslimin dengan pasukan musyrikin Mekkah. Pedang saling tentang, anak panah melesat cepat. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Amr bin Jamuh, semenjak melangkahkan kakinya dari rumah, tidak pernah berniat untuk kembali. Dia menceburkan dirinya dengan tertatih-tatih ke dalam pertempuran yang sedang berkecamuk. Dia hantamkan pedangnya ke tubuh pasukan musuh yang mendekat. Dia berharap dirinya sesegera mungkin menemui kesyahidan, dia sudah merindukan surga.

Akhirnya sebuah pedang musuh diayunkan pada dirinya, merobek tubuhnya. Seketika itu juga Amr bin Jamuh syahid dalam menunaikan sumpahnya, dan pergi menghadap Rabnya.

(LHI)

Referensi:
Khalid, Muhammad Khalid. 60 Sirah Sahabat Rasulullah.
Basya, Abdurrahman Ra’fat. Mereka adalah para Sahabat.
Shalabi, Ali Muhammad. Sirah Nabawiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here