Home Pernikahan Durhaka Istri Kepada Suami

Durhaka Istri Kepada Suami

76
0
SHARE
durhaka istri kepada suami

Review ini melengkapi review sebelumnya, yakni Durhaka Suami Kepada Istri. Diharapkan dengan saling mengetahui apa saja bentuk-bentuk kedurhakaan yang mungkin terjadi antara satu terhadap lainnya, dan begitu pula sebaliknya, maka keniscayaan terhadap perbaikan diri, keluarga, rumah tangga, dan pernikahan akan segera mewujud di hadapan kita semua.

Dalam pernikahan, ada pihak-pihak eksternal maupun internal. Beberapa kedurhakaan oleh istri (kepada suami) yang melibatkan pihak eksternal mungkin saja terjadi. Berikut adalah beberapa contoh di antara kedurhakaan-kedurhakaan tersebut:

  • Kurang memperhatikan ortu suami. Tidak hanya istri yg kehilangan kebahagiaan hidup, tetapi juga suami dan kedua orang tuanya. Bayangkan hal tersebut terjadi pada anda. Senangkah anda bila ibu anda mendapat perlakuan yg sama dr istri saudara laki2 anda?
  • Menyebarkan problematika rumah tangga kepada orang lain. Sudah seharusnya seorang istri dengan sungguh-sungguh agar tidak ada seorang pun yg menjadi pihak ketiga. Seorang istri yg cerdas menyembunyikan apa yang terjadi antara dirinya dgn suami, bahkan turut menyembunyikan kepada ortu sekalipun
  • Kurang memperhatikan posisi dan status sosial suami. Hendaknya istri merelakan jauhnya suami dr sisinya, atau kekurangan suami dlm memenuhi sebagian haknya. Tidak lantas istri berhak melarang suami menunaikan kewajiban sosial atau imtelektual, memperlihatkan kemarahan atau menurunkan hujan protes bila suami melakukan kegiatan yg ia sendiri nyaman menjalaninya, dan merupakan panggilan tugas melayani masyarakat
  • Membuat risau suami dengan bnyk menjalin hubungan. Istri diharapkan bersikap adil dalam melakukannya. Alias lebih memprioritaskan suami & anak2.
  • Keluar dari rumah tanpa seizin suami. Seyogyanya seorang istri berhati-hati untuk tidak keluar, meskipun situasi memungkinkan dirinya untuk keluar. Sebab, bila ia sendiri selamat dari fitnah, tidak ada jaminan bahwa orang-orang akan selamat dari fitnah akibat kehadirannya. Bila terpaksa harus keluar rumah, hendaklah ia keluar rumah dengan izin dari suami dan dengan penampilan sederhana, lebih memilih jalan sepi daripada jalan raya dan pasar, menjaga diri untuk tidak memperdengarkan suaranya, dan berjalan di pinggir jalan, tidak di tengahnya. (Ibnul jauzi, ahkam an nisa, hal.68 )
  • Menyebarluaskan rahasia tempat tidur. Menjadi kewajiban sepasang suami dan istri untuk tidak menyebarluaskan rahasia tersebut
  • Istri mendeskripsikan seorang perempuan kepada suami. Hikmah dari larangan ini adalah kekhawatiran bila suami merasa takjub kepada sifat yg disebutkan sehingga berdampak pada ditalaknya perempuan yg menceritakan, atau fitnah pada perempuan yg diceritakan.
  • Istri yang ikhtilat dan tabarruj di hadapan kaum laki-laki. Menurut syariah, tabarruj adalah setiap perhiasan atau kecantikan yang ditujukan wanita kepada mata-mata orang yang bukan muhrim. Sedangkan Ikhtilath dalam pengertian syar’i maksudnya bercampur-baurnya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah momen dan forum yang tidak dibenarkan oleh Islam.

Sedangkan beberapa kedurhakaan yang tidak melibatkan pihak eksternal, misalnya:

  • Bersikap nusyuz kepada suami. Sehingga seakan-akan si istri merasa lebih tinggi kemudian menyombongkan diri di hadapan suaminya.
  • Menaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah.
  • Kurang perhatian terhadap kondisi dan perasaan suami.
  • Menggugat kepemimpinan suami
  • Lalai dalam melayani suami
  • Menolak ajakan suami berhubungan badan
  • Terlalu apa adanya, kurang mempercantik diri di hadapan suami
  • Membebani suami dengan banyak tuntutan

Lantas, bagaimana seharusnya menjadi seorang istri? Berikut adalah beberapa tips yang diberikan dalam buku “Durhaka Istri Kepada Suami”, tersebut:

  • Wanita itu akan merasa telah merealisasikan jati dirinya dan mendapatkan angan-angannya yang termanis ketika ia telah berhasil membuat suaminya merasa bahagia bersamanya dan menikmati hidup bersama dirinya.
  • Hendaknya istri itu memenuhi seluruh hidup suaminya, sehingga ia menjadi kegembiraan bagi hatinya, kekaguman bagi akalnya, kesenangan bagi pendengarannya, pendengar saat ia berbicara.
  • Jadilah ketenangan di depannya, malaikat di tangannya, kelembutan di matanya, maka di kepala suami Anda akan tumbuh rasa cinta kepada Anda. Ia akan memberikan akal dan hatinya untuk Anda.
  • Wahai para istri, berusahalah agar selalu tampil cantik di depan suami. Karena ini akan membuatnya mabuk.
  • Jadilah pendengar untuk suami dengan perasaan cinta dan kekaguman, meski ia berbicara ngaco dan membanggakan diri.
  • Sebab wanita yang mensyukuri hidupnya dan apa yang telah diberikan oleh suaminya kepadanya, menunggu kecerahan dari hidupnya, pernikahannya itu bisa memiliki hati suaminya, dan ia menikmati hidupnya lantaran syukur itu selalu ada.

Sebagai penutup, dari uraian-uraian di atas telah nyata bahwa pasangan, bagi seorang lelaki, merupakan nasib yang terbaik baginya. Atau mungkin merupakan kenyataan yang sebaliknya, yaitu pasangan sebagai nasib yang terburuk.

Perspektif atau mindset yang diajarkan oleh Islam dalam hal ini adalah bahwasanya Istri shalihah merupakan suatu perniagaan yang sungguh-sungguh menguntungkan. Yang demikian itu sesungguhnya merupakan daya dan upaya yang patut diperjuangkan oleh kaum lelaki.

Sebagaimana sabda baginda Rasulullah, yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwasanya “dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah”. Maka dari itu hendaknya para kaum perempuan yang telah bersuami agar turut mengupayakan agar dirinya menjadi perhiasan dunia yang paling baik tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here