Peran Ulama dalam Mempersatukan dan Memerdekakan Bangsa

    90
    0
    SHARE

    Sumber: Share Letter. Edisi Agustus 2016.

    Akhir abad 14, kejayaan kerajaan Majapahit berangsur pudar. Saat itu raja yang berkuasa resah dengan perilaku anggota kerajaan dan masyarakat yang jauh dari nilai moral kebaikan. Nampaknya, ajaran dewa yang mereka anut tidak lagi meresap di lapisan masyarakat. Sehingga penyakit masyarakat seperti mencuri, mabuk, dan sebagainya merajalela.

    Raja Majapahit kemudian meminta tolong kepada Raden Rahmat, putra Syaikh Maulana Malik Ibrahim untuk membantu mengatasi kondisi masyarakat yang sudah parah. Raden Rahmat masih bertalian darah dengan istri sang Raja serta dikenal memiliki ketinggian ilmu. Tak heran kiranya, sang raja meminta tolong kepadanya.

    Orang yang terpelajar tentunya mencoba mencari tahu akar permasalahan dan kemudian mencari solusi atas permasalahan tersebut. Dari situlah, Raden Rahmat kemudian mengajarkan Lima Pantangan bagi masyarakat. Yaitu Moh Main atau tidak mau berjudi, Moh Mendem atau tidak mau minum arak atau mabuk-mabukan, Moh Maling atau tidak mau mencuri, Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain sebagainya, Moh Madon atau tidak mau berzina atau main perempuan.

    Apa yang kemudian dikenal dengan Moh Limo tersebut, ternyata dapat mengubah perilaku masyarakat. Secara berangsur, kehidupan masyarakat Majapahit menjadi lebih baik.

    Atas keberhasilan memperbaiki perilaku masyarakat, kerajaan Majapahit menghadiahkan daerah Ampeldenta (di Surabaya) kepada Raden Rahmat. Dan karena menetap di Ampeldenta, Raden Rahmat kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, yang berjasa besar dalam mensyiarkan Islam di Indonesia.

    Sungguh, Islam masuk melalui berbagai macam hal, bukan untuk merusak, namun untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak yang ada di muka bumi. Seperti yang Rasulullah Shalllahualaihiwassalam sabdakan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

    Demikian juga Islam, masuk ke Nusantara dengan cara yang damai, dan menambahkan kebaikan kepada masyarakat setempat, sehingga semakin beradab.

    Kedatangan Bangsa Penjajah

    Ketika bangsa asing dengan niat menguasai Nusantara mulai datang, dimulai dari Portugis sekitar tahun 1501, Spanyol (1527), dan Belanda (1596), saat itu tatanan masyarakat Indonesia berlangsung dengan baik. Di banyak tempat, bermunculan kerajaan-kerajaan bernafaskan Islam seperti Samudra Pasai di Aceh, Demak di Jawa, serta Ternate dan Tidore di Maluku Utara.

    Bangsa asing yang saat itu datang untuk berdagang rempah-rempah, kemudian bernafsu untuk menjajah Nusantara. Ini tak lepas dari semangat penjelajahan dunia, dimana mereka berlayar dengan tiga misi utama yaitu emas, jajahan, dan misionaris atau biasa disebut gold-glory-gospel.

    Dengan cepat, ancaman militer bangsa Eropa memaksa raja-raja Islam Nusantara untuk tunduk akan kepentingan mereka. Selain wajib tunjuk dan patuh dengan negara penjajah, mereka juga harus menghadapi penyebaran agama nasrani yang dibawa oleh penjajah Eropa.

    Perlawananpun dilakukan oleh pemimpin-pemimpin rakyat muslim. Mereka melawan sikap imperialism penjajah, dan juga karena Islam sebagai agama yang dianut mengajarkan untuk berperang jika diganggu kedaulatan negara. Sayang , karena berlangsung secara sporadis dan kedaerahan, perlawanan saat itu belum membawa kemerdekaan bagi Nusantara.

    Perlawanan Penjajah oleh Ulama

    Hampir sebagian besar, perlawanan melawan penjajah dilakukan oleh kaum muslim yang dipimpin oleh araja. Kita tentu mengenal Sultan Hasanuddin dari Makassar, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Agung dari Mataram atau Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah raja Islam yang berperang melawan penjajah.

    Selain itu, kita mengenal Imam Bonjol atau Pangeran Diponegoro yang memimpin rakyat mengangkat senjata melawan penjajah. Ulama, adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan bangsa ini dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

    Hal ini tak lepas dari pengaruh para juru dakwah Islam di masa awal penyebarannya (Wali Songo) yang hampir seluruhnya masih memiliki darah ulama timur tengah. Bahkan bukan hanya sekedar keturunan, namun memang penyebaran dakwah di muka bumi memang merupakan perintah langsung dari kekhalifan Islam.

    Dengan berkembangnya Islam semakin luas di kalangan keraton dan kerajaan di Nusantara, membuat para raja mengirimkan orang pandai untuk belajar Islam langsung ke sumbernya yaitu di Makkah. Sehingga tak heran, banyak orang Indonesia yang beribadah haji sekaligus menimba ilmu dari para syaikh di tanah suci.

    Tercatat sosok seperti Syekh Achmad Khatib Sambas dan Syaikh Nawawi Al-Bantani atau Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, orang Indonesia yang pernah belajar dan menjadi ulama di Makkah dan pemikirannya menginspirasi pergerakan di tanah air. Termasuk juga Muhammad Syahab, yang kemudian dikenal sebagai Imam Bonjol, perlawanannya terhadap penjajah merupakan hasil dari pendidikan di tanah suci. Termasuk juga pangeran Diponegoro, yang merupakan murid dari Kyai Mojo, ulama yang menimba ilmu di tanah suci.

    Dalam hal ini, ulama-ulama di tanah suci bukan mengobarkan benih peperangan. Namun perlu diketahui, bahwa kemerdekaan merupakan hak dari setiap umat muslim. Terlebih tabiat penjajah yang menempatkan umat muslim sebagai strata terendah, membuat umat muslim perlu dan wajib membela hak dan kehormatannya sebagai muslim.

    Ulama dan Perebutan Kemerdekaan

    Memasuki tahun 1900an, pola pergerakan perjuangan umat muslim mulai berubah. Bukan sekedar mengangkat senjata, namun juga menyadari akan perlunya persatuan antar umat di nusantara untuk melawan imperialism dan penyebaran agama nasrani yang dilakukan oleh bangsa Eropa.

    Secara bersamaan, banyak santri-santri muda yang belajar di Makkah, pulang ke tanah air, dan kemudian mendirikan pondok pesantren dan juga perkumpulan-perkumpulan yang bersifat kedaerahan. Hal ini karena masih represifnya penjajah Belanda kepada umat Islam di Nusantara.

    Dimulai dari tahun 1905, ketika Haji Samanhudi mendirikan Syarikat Dagang Islam di Surakarta, untuk mewadahi para pedagang muslim. Kemudian berdirinya Budi Utomo yang ditetapkan sebagai moment Kebangkitan Nasional, walau ada pendapat yang menyebutkan sifatnya masih kedaerahan.

    Hingga kemudian tahun 1912, HOS Tjokroaminoto (yang layak mendapat gelar guru bangsa karena banyak melahirkan tokoh nasional lewat didikannya) mendirikan Syarikat Islam yang dilanjutkan berdirinya Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan dan tahun 1926 berdirinya Nahdhlatul Ulama oleh KH Hasyim Asyhari, yang membuat pergerakan perjuangan merebut kemerdekaan oleh umat Islam semakin terorganisir dengan baik.

    Dan ketika Belanda meninggalkan Indonesia karena pendudukan Jepang, para ulama tetap berada di garis depan dalam melawan penjajahan.

    Saat bangsa ini telah merdeka, ancaman akan kedaulatan negara kembali datang, dengan hadirnya tentara sekutu yang disertai tentara Belanda (NICA). Tercatat, berbagai macam pertempuran yang dilakukan oleh lascar rakyat Indonesia, seperti tentara pelajar atau juga lascar Hizbullah dan Sabilillah yang berisikan para santri dan ulama.

    Ulama menunjukkan peranan penting, ketika pada tanggal 22 OKtober 1945, KH Hasyim Ashari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mewajibkan seluruh umat muslim di Indonesia untuk membela kemerdekaan, yang disambut dengan mobilisasi muslim untuk berperang di Surabaya tanggal 10 November.

    Masih banyak lagi para pejuang kemerdekaan yang berjuang, tak lepas dari pemahaman bahwa membela tanah air merupakan bagian dari perjuangan membela kebenaran.

    Sungguh, Islam hadir dengan ketenangan, menyebar luas dengan kedamaian, dan memberikan contoh dengan kebaikan. Bukan dengan kekerasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh imperialisme eropa, atau pemaksaan untuk mengikuti agama yang dianut oleh negara barat. Wallahu’alambishshawaab.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here