Home Insani Lapis-Lapis Kebahagiaan

Lapis-Lapis Kebahagiaan

55
0
SHARE

Mengapa Harus Bahagia?

Jenderal lapangan biasanya punya jargon: kebahagiaanku adalah ketika berada di tengah2 anak buah

Pemimpin yg amanah biasanya ambil prinsip kebahagiaan: memimpin itu menderita

Geng marbot kadang berkelakar: kebahagiaan itu adalah ketika amanah tertunaikan

Masing2 orang bisa mendefinisikan sendiri komponen kebahagiaannya. Tentu bagi orang yg beriman, akar komponen tsb digali dari firman Tuhan dan sabda Utusan-Nya.

Bahasan kita kali ini adalah hakikat kebahagiaan menurut Islam.

Arti Kebahagiaan

Kalo dalam materi tarbiyah, bahasan tentang bahagia itu ada dalam materi syahadatain. Min asy syahadaat ilaa as sa’aadat.

kebahagiaan itu termasuk bab yang paling sulit dibahas karena langsung dirasakan oleh hati. kita membahas dengan pikiran tentang hati. Sebagai muslim(ah), kebahagiaan adalah tentang ridha-nya hati kepada takdir Allah. apa penyebab kebahagiaan itu sendiri, tak banyak yang bisa dibuat terukur. secara rasional orang-orang yang memiliki kelebihan, berupa harta, kehormatan, kedudukan, kekuasaan, dan lain-lain akan menjadi orang yang paling dahulu bahagia. tapi kenyataannya ternyata tdk demikian.

banyak orang berharta tapi tak bahagia, sebaliknya berapa banyak orang tak berharta yang bahagia. banyak orang sehat tak bahagia, sebaliknya banyak orang sakit justru bahagia. apa rahasianya…sungguh sulit untuk dijawab.

para ahli tasawuf memiliki pembahasan yang rinci dalam mengelola hati. intinya bahagia itu datang ketika hati ridha pada takdir Allah. Ketika “Alhamdulillah alaa kulli haal”, benar-benar menjadi perkataan yang diyakini oleh hati. ketika ayat “Alaa bidzikrillahi tathma’innul quluub” benar-benar diyakini dan diamalkan. susahnya seputar prakteknya itu, teorinya banyak bisa kita dapat dari buku-buku dan ceramah.

kalau dalam wasilah tarbiyah, “dzikir kepada Allah” sebagai jalan mencapai “tathmainnul quluub” itu, setelah ilmu yang benar, diminta diamalkan dalam banyak cara. antara lain berdzikir sesudah subuh, shalat di awal waktu, banyak shalat tahajjud dan puasa, dll. semuanya dalam rangka memaksa hati selalu ingat kepada Allah.

tapi sekali lagi, prakteknya itu yang susah. pengetahuan mah banyak…..orang seperti saya pun bisa menulis sprti di atas. tapi prakteknya belum tentu.

Nah.. lanjutin dikit. Dalam konsep yg dimaksud dalam materi ini.. bahagia itu proses sekaligus hasil. Ibarat mendaki gunung, keindahan alam tidak harus ada di puncaknya saja (baca: hasil). Melainkan sudah seharusnya ada dalam pendakian itu sendiri (baca: proses). Komponen bahagia dlm ayat ini ada 3.

(إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ)

[Surat Fussilat 30]

  1. Laa takhaf : proses sekaligus hasil dari asy syaja’ah (keberanian)
  2. Laa tahzan : proses sekaligus hasil dari al ithmi’nan (ketenangan)
  3. Basyirah (visioning) bil jannah : proses sekaligus hasil dari at tafaa-ul (optimisme)Nastaghfirullah, wa natuubu ilaihi.

Kalo dlm konsep Islam (refer ke diagram materi tarbiyah tadi), bahagia sbg hasil itu akan didapatkan pada kehidupan setelah kematian

 

(يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ)

Bukti bahwa seseorang itu benar bahagia adalah…

(وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ)

Hehe.. framework yg sama berlaku utk dunia akhirat. Min asyahadat ilaa as sa’adaat. Dari syahadat menuju kebahagiaan.

Komponennya 3 hal yg dimaksud dalam surat fushilat ayat 30 sebagaimana tersebut di atas.

 

Kontjinya ada pada iman dan istiqomah. Kedua hal tsb jg merupakan proses iteratif. Semakin dijalankan, semakin kita tahu bagaimana menjalankannya secara optimal.

Jika mengalami kesulitan dlm proses kehidupan, kita diminta utk minta tolong ke Tuhan. Caranya dg sabar dan shalat.

Kadang2.. bahagia itu kita temukan dalam tangis. Demikian pula sebaliknya, kadang2.. kita perlu mengondisikan diri utk menangis agar plong dan bahagia kembali hadir.. hal2 tsb paling afdhol dilakukan dalam shalat⁠⁠⁠⁠

Worldview Barat tentang Kebahagiaan

Ada Martin seligman dgn bukunya authentic happiness. Tp tentu dia gak sampai bahas kalbu. Bahasan dia berhenti di passion. Hati-hati mempelahari worldview ala Barat ini. Jangan sampai malah mengacaukan konsepsi Islam yang kita bangun. Biasanya sih pelatih bilang perkuat dulu kuda2 sblm mulai asah jurus.

Kalau saya menyederhanakannya wordview Islam soal ‘bahagia’ itu beda dengan worldview Barat. Kalau pakai bahasa inggris penekanannya di dunia mungkin kata ‘content’ bukan kata ‘happy’. Dan menurut saya lagi ‘content’ ini laku proses bukan state akhir, memang harus ada usaha untuk mengkondisikan hati. Pembahasan lebih panjang mungkin dihubungkan dengan konsep Islam mengenai ‘dunya’ sendiri.

Bagi muslim, dunya ini tidak berdiri sendiri. Masih ada “kampung halaman” akhirat. kehidupan setelah kematian. Orientasi kita tidak boleh berhenti di dunia saja. Visi hidup harus kita perpanjang sampai dengan akhirat. Itulah bedanya dengan worldview Barat yang “stop” di urusan dunia saja. Seakan tidak ada hidup setelah mati.

Al Ghazali punya framework: kimiyya as sa’adaat atau the alchemy of happiness. Konon itu salah satu introduction utk memahami ihya ulumuddin. Hmm mungkin perlu diingat dengan kerangka besar pemikiran Al Ghazali, beliau terutama di akhir hidupnya berusaha menjembatani antara dimensi luar dan dalam dari Islam.

Unsur kimia kebahagiaan menurut framework al Ghazali ada 4:

  1. Mengenal diri
  2. Mengenal Tuhan
  3. Mengenal dunia
  4. Mengenal akhirat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here