Home Sahabat Nabi HAJI dan Syarat Istitha’ah

HAJI dan Syarat Istitha’ah

41
0
SHARE

Dalam 1-2 hari ini sudah viral postingan mengenai calon Jamaah haji asal Embarkasi Padang (PDG 01) yang dibatalkan keberangkatannya karena tidak memenuhi syarat istitha’ah dalam kesehatannya. Ini linknya:
https://web.facebook.com/kurniawan.hasyim/posts/10212342780078251?comment_id=10212343566817919&notif_t=comment_mention&notif_id=1501318361529363
Sebagai sesama muslim, saya juga merasa sangat sedih menyaksikan rekaman video tsb. Tetapi, sesungguhnya kita harus mengingat kembali dasar perintah berhaji dalam surah Ali Imran ayat 97:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ

Ibadah haji merupakan rukun islam yang wajib dilaksanakan dengan syarat mampu (istitha’ah). Istitha’ah dalam hal ini menyangkut 3 aspek, yaitu harta, kesehatan dan keamanan.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 tentang Istitha’ah Kesehatan Haji di mana calon jamaah haji yang tidak memenuhi syarat istitha’ah tidak dapat diberangkatkan. Lalu siapa saja calon jamaah haji yang masuk kategori ini?
Yang termasuk Tidak Memenuhi Syarat Istitha’ah Kesehatan Haji adalah:
– Kondisi yang mengancam jiwa (PPOK derajat IV, gagal jantung std IV, gagal ginjal kronik std IV dengan HD rutin/peritoneal dialysis, AIDS std IV dg infeksi oportunistik, stroke hemorrhagic luas)
– Gangguan jiwa berat (skizofrenia berat, demensia berat, retardasi mental berat)
– Sakit sulit sembuh (kanker stadium akhir, TB Total Drug Resistant, sirosis/hepatoma dekompensata
Ada 3 tahap pemeriksaan kesehatan bagi calon jamaah haji sebelum diberangkatka, yaitu pemeriksaan tahap I saat mendaftar/mendapatkan nomor porsi, Pemeriksaan Kesehatan Tahap II pada masa tunggu / tahun keberangkatan dan pemeriksaan tahap III saat di Embarkasi untuk menentukan status laik dan tidak laik terbang.
Pada video tsb, jamaah memang termasuk salah satu kondisi yang mengancam nyawa, yaitu gagal ginjal kronik stadium IV (ke atas) dengan hemodialisis rutin. Kondisi-kondisi jamaah dalam kategori tidak memenuhi syarat istitha’ah ini, dari penilaian para ahli, profesional dan praktisi kesehatan haji, termasuk dalam pengamatan dan pengalaman saya sebagai petugas kesehatan haji adalah sangat berat bahkan mayoritas dari mereka sama sekali tidak dapat menunaikan ibadah umroh maupun haji karena kondisi sakitnya. Mayoritas (karena saya tidak berani menyatakan seluruhnya) dari jamaah haji dengan kondisi demikian ini ibadah hajinya harus dibadalkan (ditunaikan oleh orang lain) padahal jamaah tersebut sudah berada di Mekkah.
Indonesia sejauh ini masih sangat kalah jauh tertinggal dalam hal seleksi calon jamaah haji dibandingkan negara Turki dan Malaysia. Pemerintah Arab Saudi sudah mengkritik tajam pada pemerintah Indonesia karena sangat buruk dalam melakukan seleksi calon jamaah haji terutama dalam hal kesehatan. Di Malaysia dilakukan seleksi seperti ujian, jadi ada yang lulus maupun tidak lulus, baik dalam manasik ibadah maupun kesehatan. Yang tidak lulus manasik ibadah diminta belajar lagi. Malaysia dan Turki juga tidak ada dokter yang menyertai jamaah dalam kelompok terbang karena jamaah yang diberangkatkan dalam kondisi mandiri/memenuhi syarat istitha’ah kesehatan.
http://www.kabarmakkah.com/2014/10/perbedaan-seleksi-haji-antara-indonesia.html
Arifatul Khorida, MD, MPH
Sekretaris PERDOKHI Cabang Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here