Home Sahabat Nabi Industri Dasar dan Tujuan Nasional Kita

Industri Dasar dan Tujuan Nasional Kita

32
0
SHARE

Dari beberapa industri dasar, memang kita ini rasanya tidak mungkin bisa mandiri (dalam waktu cepat)

  • kimia dasar untuk farmasi, kita masih impor
  • kimia dasar untuk industri lainnya, macam garam, juga masih impor
  • industri textil, benangnya impor
  • industri makanan, gandum, jagung, kedelai dll juga impor
  • industri dasar elektronika apalagi, semikonduktor pasti impor, pabrik semikonduktor jaman dulu konon pernah diusir karena tidak padat karya. Kebijakan pemerintah saat itu pro kepada industri padat karya. Efeknya kini elektronik dan telekomunikasi, mayoritas impor
  • dll

Trus apa yang bisa kita produksi benar-benar 100% lokal tanpa harus impor (berbayar) dan bisa diekspor?

  • industri berbasis kekayaan alam macam mebel. Aman itu, sebab tidak perlu impor bahan bakunya. tinggal bermain kualitas dan seni/selera.
  • industri berbasis seni, macam film dan musik. namun terbatas ekspor ke malaysia dan brunei yang serumpun. untuk melanglang eropa dan amerika, rasanya masih berat. karena rujukan peradaban di dunia ada di sana. rujukan kawasan pun bisa dibilang bukan kita. Belum lagi bicara tentang kekuatan modal mereka dalam memasarkan konten-konten film dan musik. Many times, modal mereka lebih masif di pemasaran daripada di produksinya sendiri.
  • industri software dengan modal open source, sebenarnya kita juga memiliki potensi besar di sana. Namun sepertinya juga masih berat karena banyak yang tertarik jalan pintas. Selagi bisa cepat dan bagus, mengapa harus research dan development dari awal.

Tentu tidak semua memiliki karakteristik seperti ini, ada bidang tertentu yang memang harus impor, namun keenakan impor dan beli jadi dari asing terus menerus, tentu akan melenakan.

Padahal populasi kita sungguh sangat besar. Mustinya ini adalah modal penting. Karena dengan market base yang besar, produksi lebih murah dan sisanya bisa ekspor. Karena mudah saja bagi kita untuk mencapai economic of scale yang dibutuhkan.

Namun memang mayoritas belum ke sana, karena kepercayaan, kultur, dan bahkan gengsi. Seorang kawan pernah bilang, selagi posisi dagang lebih dihargai dari posisi produksi, maka selamanya akan berat mengubah keadaan ini. Pedagang lebih makmur dari pada petani dan nelayan misalkan.

Rezim saat ini berkali-kali bilang kita harus menggeser ekonomi dari berbasis konsumsi ke produksi. Moga-moga memang rezim ini memahami bahwa tidak semua rantainya kita kuasai utuh dari ujung ke ujung. Teknologi, pengetahuan, environment, industri, dsb. Sebagian memang harus direbut, dan dipertaruhkan. Tidak akan ada bangsa dan negara lain yang memberi secara gratis.

Namun potensi konsumsi yang besar ini juga harus dimanfaatkan karena skala ekonomi produksi akan lebih mudah tercapai. Jadi mari meningkatkan produksi, untuk konsumsi sendiri. Mari meningkatkan konsumsi untuk memakan produksi sendiri.

Ingatlah kita baik-baik saja melalui krisis 2008 karena kuatnya konsumsi dalam negeri. Negara-negara yang berbasis ekspor tanpa pondasi konsumsi lokal yang kuat justru mengalami penurunan ekonomi makro.

Tidak mudah memang berdiri di atas kaki sendiri, tapi musti bertahap. Ibarat bayi yang belajar berjalan, kemampuannya diawali dengan belajar merangkak di lantai dan merambat berpegang pada tembok.

ULANGI : Sebenarnya pertanyaan pentingnya begini lho, para pembaca yang budiman.

Apa yang bisa kita hasilkan dan kemudian bisa kita ekspor, dengan bahan baku dan penguasaan runtutan teknologinya murni dari nasional. Taruhlah 95%. Hanya 5% yang asing/impor ??? Non bahan mentah ya.

Pabrik Honda dan Yamaha itu ekspornya dari sini besar, tapi teknologinya tidak murni dari kita. Toyota Innova juga sama.

Dahulu ada sepeda motor buatan lokal, brand-nya Kanzen, oleh Bu Rini Suwandi. Konon, engineer-nya banyak dibajak oleh Honda. Konon juga, pernah terjadi rekayasa kebakaran di pabriknya. Kabar terakhir, pabrik tersebut kini malah memproduksi tabung gas. Instead of sepeda motor. Mengenaskan ya kompetisinya. Sekarang, begini saja:

  • Kalau anda bisa menyebutkan 10 produk tanpa berfikir panjang, artinya negara kita sudah baik sekali kondisinya.
  • Kalau anda bisa menyebutkan 5 buah produk dengan cepat, itupun bagus.
  • Namun kalau kita masih mengernyitkan dahi hanya untuk menyebutkan 1-2 produk saja. Maka begitulah adanya negara kita ini. Ada seorang kawan yang cerita bahwa industri semen dan pulp paper, sebenarnya hampir seluruh teknologinya dan bahan dasarnya kita kuasai dengan baik. Mungkin ini adalah 1-2 di antara yang sudah sedikit itu.

Actually, solusinya memang kita perlu lebih ke dalam. Turun selevel setingkat ke bawah. Ya kalo ga bisa bikin semua, minimal bikin desainnya misalkan. Kan ada urutan piramida teknologinya. Puncaknya dagang aja, paling bawah industri dasar. Kalau ga bisa paling bawah, ya minimal turun setahap.

The bottom line nya sebenarnya adalah, kita belum memiliki mental produksi, berbicara mengenai manufakturing a.k.a. industri, tidak melulu melalui proses create from zero to something. Ada proses quality, maintenance, (re)-engineering, technical documentation, dan seterusnya hingga ke proses yg begitu kita dewakan saat ini, yaitu proses dagang nya. Proses menjual produk nya. Kalau kita masih suka bicara tentang marketing, branding, selling, and distribution-nya saja, ini masih meliputi aktivitas-aktivitas penjualannya.

Semoga beberapa ratus kata ini bisa menggugah ya. Waktu saya memberi judul tulisan ini, banyak yang kaget dengan judul yang saya berikan. Bicara besar, katanya. Bagaimanapun, saya kira kita tetap perlu “bicara besar” guna menggedor kesadaran generasi adik-adik kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here